Tak cuma itu, bisnis-bisnis tersebut juga disebut oleh Budihardjo bisa mengurangi pengangguran lantaran bisa menyerap pekerja-pekerja lokal.
Beri Tantangan Untuk F&B Existing
Budihardjo mengatakan bahwa saat ini, banyaknya F&B yang berasal dari China memberikan tantangan bagi produk-produk lokal yang ada di Indonesia. Bahkan hal ini menurutnya menuntut beberapa perusahaan lokal untuk mulai berbenah.
“Misalnya kalau tidak berbenah dan menunya itu-itu saja, toko ngga dibetulin akan ditinggalkan oleh konsumen,” sebutnya.
Ia juga menyebut bahwa peritel asal China ini bisa saja menjadi pesaing dari bisnis waralaba F&Byang sudah ada terlebih dahulu seperti Starbucks, Janji Jiwa dan juga Kopi Kenangan.
Konsultan Real Estat, Colliers memproyeksikan jika hingga akhir tahun 2025, tingkat hunian pusat perbelanjaan diproyeksikan meningkat sekitar 1%-2% dibandingkan dengan kondisi saat ini.
"Peritel F&B masih menjadi pendorong utama peningkatan tingkat hunian, dengan terus menghadirkan konsep toko dan produk menarik yang viral di kalangan anak muda," kata Ferry Salanto, Head of Research Colliers, Rabu (1/10/2025).
Dari catatan Colliers, meski sektor F&B menunjukkan penguatan, pengelola pusat perbelanjaan tetap berhati-hati terhadap risiko ketergantungan yang berlebihan. "Beberapa merek asing asal China menunjukkan ketertarikan untuk buka outlet di mal Jabodetabek," sebutnya.
Sebagai informasi saja, beberapa merek F&B China memang cukup ekspansif di tahun ini seperti merek minuman Chagee dan Tomoro serta restoran Haidi Lao.
(ell)






























