Momentum BYD memang melambat, namun perusahaan ini masih berpotensi mengirimkan lebih banyak kendaraan bertenaga baterai dibandingkan Tesla Inc. milik Elon Musk, yang dijadwalkan merilis laporan pengiriman kuartal ketiga pada Kamis. Konsensus Bloomberg memperkirakan Tesla mengirimkan sekitar 439.600 unit, lebih rendah dari 582.522 unit EV yang berhasil dijual BYD pada periode yang sama.
September dan Oktober biasanya menjadi bulan sibuk bagi pasar otomotif China, BYD dan para pesaingnya kemungkinan akan memanfaatkan kuartal terakhir untuk mengejar target tahunan. Pajak pembelian untuk sejumlah EV akan kembali diberlakukan secara bertahap mulai 2026, sehingga analis memperkirakan akan ada lonjakan permintaan dari konsumen yang ingin menikmati insentif sebelum berakhir.
Sebaliknya, Geely Automobile Holdings makin mendekati posisi pesaing besarnya tersebut. Geely menjual 273.125 unit pada September, tumbuh 35 persen dibandingkan tahun lalu. Grup tersebut tengah melakukan restrukturisasi untuk memperkuat daya saing dengan BYD, termasuk memprivatisasi merek EV Zeekr yang sedang dalam proses keluar dari Bursa Efek New York.
Merek lain yang juga menikmati kinerja cemerlang pada September antara lain Xpeng Inc. yang pengirimannya melonjak 95% menjadi 41.581 unit, serta Zhejiang Leapmotor Technology Co. yang penjualannya meningkat 97 persen menjadi 66.657 unit. Xiaomi Corp. juga terus meningkatkan produksinya setelah meluncurkan sport utility vehicle YU7 pada Juni, dengan lebih dari 40.000 unit dikirimkan bulan lalu, mencetak rekor baru.
Analis Morgan Stanley yang dipimpin Tim Hsiao menyebut dalam risetnya, agar mencapai target 4,6 juta unit, BYD harus menjual rata-rata 447.000 kendaraan per bulan sepanjang kuartal terakhir tahun ini.
Berdasarkan data penjualan yang dirilis para produsen, segmen kendaraan listrik dan hibrida di China tumbuh 10% secara bulanan pada September. Angka ini lebih rendah dari perkiraan kenaikan 15% yang diproyeksikan analis Citi Research, menurut catatan yang dipublikasikan Rabu.
Dengan Beijing yang menyerukan industri, termasuk otomotif, untuk menghentikan perang harga, produsen kendaraan kemungkinan akan kesulitan menjaga momentum penjualan tanpa memberikan diskon besar. Namun, kampanye pemerintah sejauh ini tampaknya hanya memberikan dampak terbatas bagi pelaku industri.
(bbn)






























