Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya, Rosan Roeslani, CEO Danantara, pada bulan Agustus lalu menegaskan bahwa Patriot Bond bersifat tradable dan dapat dijadikan agunan di bank-bank Himbara.  Lebih rinci, Patriot Bond terbagi dalam dua seri, masing-masing bertenor lima tahun (seri A) dan 7 tahun (seri B), dengan tingkat kupon 2%.

Patriot Bond akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan mengikuti aturan OJK yang berlaku. Saat ditanya awal bulan ini, Rosan mengamini desakan wartawan bahwa grup usaha Djarum lewat Budi Hartono dan grup Barito di bawah Prajogo Pangestu telah menyatakan minat.

Menawarkan Patriot Bond kepada pengusaha nasional telah terang disampaikan Danantara pada akhir Agustus lalu dengan maksud partisipan turut mendukung pembangunan berkelanjutan dan proyek berdampak sosial-ekonomi jangka panjang.

Penerbitan Obligasi Patriot merupakan bagian dari kerangka Indonesia, yang menekankan kolaborasi antara sektor publik dan swasta. Skema ini diharapkan dapat menciptakan pembiayaan terdiversifikasi bagi proyek-proyek nasional, tidak hanya bersumber dari dividen BUMN, tetapi juga pinjaman bank, investasi bersama, dan partisipasi swasta.

Berikut nama-nama Grup Bisnis Konglomerat RI serta besarnya partisipasi Patriot Bond mereka sesuai daftar:

  1. Budi Hartono (Djarum) dengan komitmen Rp 3 triliun
  2. Prajogo Pangestu (Barito) Rp3 triliun
  3. Antony Salim (Salim dan DCI) Rp3 triliun.
  4. Boy Thohir (Adaro) dan Edwin Soeryadjaya (Saratoga) Rp3 triliun
  5. Sugianto Kusuma (Agus Sedayu - Erajaya) Rp3 triliun
  6. Prijono Sugiarto (Astra) Rp3 triliun
  7. Franky Widjaja (Sinar Mas) Rp3 triliun
  8. Low Tuck Kwong (Bayan) Rp3 triliun
  9. Dato Tahir (Mayapada) Rp1 triliun
  10. James Riady (Lippo) Rp1,5 triliun
  11. Tommy Winata (Artha Graha) Rp1,6 triliun
  12. Hilmi Panigoro (Amman Mineral) Rp1,5 triliun
  13. Sukanto Tanoto (RGE Group) Rp1,5 triliun
  14. Gunawan Lim (Harita) Rp1,5 triliun
  15. Alexander Tedja (Pakuwon Group) Rp1,1 triliun
  16. Martua Sitorus (KPN) Rp1 triliun
  17. Martias (First Resources) Rp1 triliun
  18. Peter Sondakh (Rajawali Corpora) Rp1 triliun
  19. Eddy Sugianto (Mandiri Coal) Rp1 triliun
  20. Eddy Sariaatmadja (Emtek) Rp1,5 triliun
  21. Sjamsul Nursalim (Gajah Tunggal/MAP) Rp1,5 triliun
  22. Kiki Barki (Harum Energy) Rp1 triliun
  23. Jogi Hendra Atmadja (Mayora) Rp1 triliun
  24. Bachtiar Karim (Musim Mas) Rp1 triliun
  25. William Katuari (Wings) Rp1,1 triliun
  26. Djoko Susanto (Alfa Group) Rp800 miliar
  27. Arif Rachmat (Triputra) Rp750 miliar
  28. Harun Hajadi (Ciputra Group) Rp300 miliar
  29. Putra Sampoerna (Sampoerna Agro) Rp500 miliar
  30. Mucki Tan (Rodamas Group) Rp300 miliar
  31. Renaldo Santosa (Japfa) Rp275 miliar
  32. Soetjipto Nagaria (Summarecon) Rp550 miliar
  33. Haryanto Adikoesoemo (AKR) Rp250 miliar
  34. Widarto Oey (Sungai Budi Group) Rp300 miliar
  35. Nurhayati Subakat (Paragon) Rp100 miliar
  36. Muki Hamami (Trakindo Group) Rp500 miliar
  37. Soedomo Mergonoto (Kapal Api Group) Rp275 miliar
  38. Chandy Kusuma (FKS Group) Rp300 miliar
  39. Arsjad Rasyid (Indika Energy) Rp300 miliar
  40. Kuncoro Wibowo (Kawan Lama Group) Rp300 miliar
  41. Husodo Angkosubroto (Gunung Sewu) Rp300 miliar
  42. Sudhemek (Garudafood) Rp200 miliar
  43. Chearavanont (Charoen Pokphand) Rp300 miliar
  44. Rukun Rahardja Group Rp200 miliar 
  45. Marcel Menaro (Meratus Line) Rp100 miliar
  46. Hardono S. Muljadi (Tempo Scan Pacific) Rp50 miliar

*) Disclaimer: Artikel ini bersumber data yang beredar dan diterima Bloomberg Technoz namun belum bisa diverifikasi kebenarannya.

(red)

No more pages