Secara teknikal, IHSG kini bertahan di atas level psikologis 8.000 dan garis SMA20. Skenario bullish terbuka jika indeks menembus 8.157–8.234, sementara peluang koreksi ada di area 7.868–7.645.
Selain faktor teknikal, katalis sektoral juga menjadi perhatian. Pemerintah menyiapkan kawasan industri hasil tembakau untuk menarik produsen rokok ilegal masuk sistem resmi. Di sisi lain, Menteri Keuangan memastikan tarif cukai rokok tidak akan naik pada 2026, yang dinilai memberi kepastian biaya dan menjaga stabilitas margin produsen. Sentimen ini ikut mendukung reli saham rokok dalam sepekan terakhir.
Sektor konsumer goods pun dinilai berpotensi pulih setelah tertekan di kuartal II/2025. Stimulus pemerintah “8+4” berupa bantuan pangan, program padat karya, hingga magang diperkirakan mulai berdampak di kuartal IV/2025. BRI Danareksa memperkirakan revenue emiten konsumer naik 4,8% yoy dan net profit tumbuh 27% yoy pada 2025, dengan rekomendasi overweight dan top pick pada Indofood CBP (ICBP).
Meski begitu, risiko eksternal tetap membayangi. Penguatan dolar AS akibat kebijakan The Fed menambah tekanan ke rupiah. Risiko pelemahan kurs hingga mendekati Rp17.000 per dolar masih terbuka, meski pemerintah dan Bank Indonesia optimistis stabilisasi bisa dijaga.
Dengan kombinasi faktor historis, teknikal, dan stimulus domestik, Oktober dinilai menjadi periode yang berpeluang mengembalikan optimisme investor di Bursa Efek Indonesia, meskipun volatilitas pasar global tetap harus diwaspadai.
(rtd/frg)

























