Logo Bloomberg Technoz

Peso Filipina menjadi yang terlemah dengan depresiasi 0,39%. Disusul oleh dolar Taiwan (-0,35%), baht Thailand (-0,29%), dan ringgit Malaysia (-0,25%).

Mata Uang Asia bs Dolar AS (Sumber: Bloomberg)

Mencermati tren pelemahan rupiah akhir-akhir ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pun buka suara. Perry menegaskan bank sentral berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. 

“Bank Indonesia menggunakan seluruh instrumen yang ada secara bold, baik di pasar domestik melalui instrumen spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder, maupun di pasar luar negeri di Asia, Eropa, dan Amerika secara terus menerus, melalui intervensi NDF”, demikian Perry menyatakan.

Sementara Ekonom UOB Kay Hian Surya Wijaksana menyebut rupiah kini mengalami pelemahan 1,55% sepanjang September. Menurutnya, ada dua faktor utama penyebab depresiasi mata uang Ibu Pertiwi.

Pertama adalah aliran modal keluar (capital outflow) akibat kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek pengelolaan fiskal Indonesia. Kedua adalah tekanan dari aliran modal keluar investor domestik yang disebabkan kekhawatiran akan arah kebijakan pemerintahan baru yang dianggap lebih nasionalis.

“Meskipun mengalami depresiasi, volatilitas nilai tukar rupiah masih tergolong terkendali dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia diperkirakan relatif terbatas. Ketahanan ini ditopang oleh beberapa faktor, antara lain penurunan signifikan partisipasi asing di pasar finansial Indonesia yang mengurangi dampak guncangan capital outflow, transmisi depresiasi ke inflasi yang minimal berkat rendahnya inflasi dan lemahnya penularan harga global ke konsumsi domestik, serta dampak positif bagi daya saing ekspor Indonesia,” papar Surya. 

Ke depan, UOB Kay Hian memperkirakan tekanan pelemahan rupiah masih akan berlanjut, meskipun kecepatannya diperkirakan termoderasi oleh intervensi BI. Tekanan ini terutama didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga BI yang agresif yang disertai dengan posisi (stance) kebijakan Federal Reserve yang masih hawkish, serta melemahnya ekspor akibat lemahnya harga komoditas yang berpotensi memperburuk defisit transaksi berjalan. 

“Meskipun rupiah menghadapi tekanan, pondasi pasar keuangan domestik dinilai cukup resilien untuk menyerap dampaknya,” ujar Surya.

- Dengan asistensi Ruisa Khoiriyah -

(aji)

No more pages