Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, imbalan pascakerja justru meningkat. Kenaikan ini bukan dipicu pemutusan hubungan kerja, melainkan perubahan asumsi keuangan dan penyesuaian aktuarial. Faktor-faktor seperti fluktuasi tingkat diskonto, inflasi, hingga masa kerja karyawan membuat kewajiban imbalan pascakerja Garuda bertambah tinggi pada semester I-2025.

Mengutip laporan keuangan, bagian pengukuran kembali imbalan pascakerja atau uang pensiun yang tercatat sebesar US$2,21 juta, naik 957,16% dibanding tahun lalu yang tercatat sebesar US$209.220. Pos ini diperparah dengan anjloknya surplus revaluasi aset tetap yang sebelumnya menyumbang pendapatan sebesar US$1,19 juta menjadi hanya US$509.398.

Kemudian di sisi neraca keuangan, terdapat kenaikan dalam pos utang usaha. Utang usaha pihak berelasi terutama dari kewajiban sewa tempat hingga layanan ground handling. Sementara utang pihak ketiga yang dicatat perseroan bukan pinjaman bank, melainkan kewajiban atas maintenance di luar kerja sama GMF AeroAsia, asuransi, dan biaya promosi.

Sebagai informasi, sepanjang semester I-2025, GIAA menderita kerugian sebesar US$145,57 juta atau sekitar Rp2,36 triliun (kurs Rp16.233). Kerugian tersebut melebar 41,36% dibandingkan periode sama tahun lalu yang tercatat US$101,65 juta.

Merosotnya kinerja Garuda sejalan dengan turunnya pendapatan usaha. Sepanjang paruh pertama 2025, pendapatan hanya mencapai US$1,54 miliar atau Rp23,13 triliun, turun 4,48% dibandingkan semester I-2024 sebesar US$1,62 miliar. Segmen penerbangan berjadwal menjadi penopang utama dengan US$1,18 miliar, diikuti penerbangan tidak berjadwal sebesar US$205,83 juta dan lainnya US$158,20 juta. Namun seluruh segmen itu sama-sama mencatat penurunan.

Meski demikian, beban usaha Garuda justru menurun akibat terkoreksinya harga avtur, dari 71,09 US cent / liter pada Juni 2024 menjadi 62,48 US cent/liter pada Juni 2025.

(dhf)

No more pages