Jika diberlakukan, tarif tambahan hasil penyelidikan sektoral ini akan melengkapi tarif berbasis negara yang lebih dulu diterapkan Trump. Namun, beberapa mitra utama seperti Uni Eropa dan Jepang sudah mencapai kesepakatan untuk menghindari penumpukan tarif berganda.
Otoritas perdagangan AS juga melihat kebijakan ini sebagai langkah cadangan bagi Trump, jika tarif darurat yang diberlakukan terhadap puluhan negara digugurkan oleh pengadilan federal. Mahkamah Agung AS telah sepakat meninjau ulang gugatan terkait tarif tersebut, yang sebelumnya dinyatakan ilegal oleh dua pengadilan tingkat bawah.
Berbeda dengan tarif darurat di bawah Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional yang lebih cepat diterapkan, tarif berdasarkan Pasal 232 biasanya lebih lama diproses, namun bisa bertahan lintas pergantian presiden.
Penyelidikan baru ini juga mencerminkan kekhawatiran sebagian pejabat pemerintahan Trump atas ketergantungan AS pada impor peralatan medis, seperti jarum suntik, benang bedah, kateter, dan perban. Departemen Perdagangan juga akan meneliti perdagangan alat pelindung diri, termasuk sarung tangan dan masker yang banyak digunakan saat pandemi Covid-19.
Namun, penyelidikan alat medis ini tidak mencakup obat resep, produk biologis, dan farmasi lainnya, karena sudah termasuk dalam penyelidikan terpisah yang tengah berjalan.
Sementara itu, penyelidikan robotik dan mesin industri akan menyoroti sistem mekanis berbasis komputer, mesin frais, serta mesin stamping dan pressing yang banyak digunakan di pabrik, menurut dokumen resmi pemerintah.
(bbn)



























