Logo Bloomberg Technoz

Saudi-Irak Bakal Getol Ekspor Minyak, Imbas Tren EBT di Timteng

Redaksi
18 September 2025 13:50

Sampel pengeboran rig di lokasi penambangan Khnaiguiyah, Arab Saudi pada 10 Juli. (Fotografer: Tasneem Alsultan/Bloomberg)
Sampel pengeboran rig di lokasi penambangan Khnaiguiyah, Arab Saudi pada 10 Juli. (Fotografer: Tasneem Alsultan/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) mengestimasikan ekspor minyak dari Arab Saudi dan Irak makin menguat dalam tahun-tahun mendatang, seiring dengan turunnya permintaan bahan bakar fosil untuk kelistrikan di wilayah Timur Tengah.

Menurut laporan terbaru IEA, konsumsi listrik di Timur Tengah dan Afrika Utara telah melonjak dalam beberapa dekade terakhir dan diproyeksikan terus meningkat tajam hingga 2035; berbanding lurus dengan kenaikan adopsi pembangkit listrik berbasis gas alam, nuklir, dan energi terbarukan.

“Permintaan listrik di Timur Tengah dan Afrika Utara meningkat tiga kali lipat antara 2000 dan 2024 seiring dengan peningkatan populasi dan pendapatan. Berdasarkan pengaturan kebijakan saat ini, konsumsi listrik di kawasan tersebut diproyeksikan meningkat sebesar 50% pada 2035 – setara dengan permintaan gabungan Jerman dan Spanyol saat ini,”  papar IEA, Kamis (18/9/2025).

Pekerjaan pipa di Departemen Pengolahan Khurais di ladang minyak Khurais di Khurais, Arab Saudi. (Fotografer: Maya Sidiqqui/Bloomberg)

Dengan iklim yang ditandai oleh panas ekstrem dan kelangkaan air di sebagian besar wilayah tersebut, porsi terbesar dari proyeksi peningkatan permintaan listrik di Timur Tengah selama dekade mendatang—sekitar 40% — diperkirakan berasal dari pendinginan dan desalinasi. 

Hingga tahun ini, gas alam dan minyak memang masih mendominasi 90% bauran energi primer di wilayah tersebut.