Indeks Spot Dolar Bloomberg turun pada Senin (15/9/2025) ke level terendah dalam lebih dari sebulan, dan stabil pada Selasa (16/9/2025).
“Seperti halnya nikel, pelemahan dolar AS membuat tembaga lebih terjangkau, memicu minat beli. Faktor ini memberikan dorongan signifikan pada harga tembaga, yang saat ini berada di level US$10.000,” terangnya.
Sejumlah faktor lain, kata Wahyu, turut mendukung kenaikan harga tembaga global. Permintaan dari sektor energi hijau seperti panel surya dan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), misalnya, dipandang memperkuat kenaikan harga tembaga global.
Selain itu, penutupan sementara sebagian operasi tambang tembaga Grasberg milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Papua Tengah juga menjadi sentimen pendorong harga komoditas logam merah itu.
Wahyu memprediksi harga tembaga global bisa menyentuh US$10.800/ton jika gangguan operasional di tambang Grasberg Block Cave (GBC) Freeport berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.
Sementara itu, jika operasional tambang tembaga terbesar ketiga di dunia tersebut dapat pulih dengan cepat maka harga tembaga global diprediksi mengalami koreksi turun.
Dia memprediksi nilai resistance terdekat yang akan diuji yakni pada level US$10.250/ton. Jika level tersebut, maka level resistance terdekat berada di angka US$10.500/ton.
Sementara itu, level support tembaga terkuat berada di level US$9.800/ton. Jika harga tembaga melandai ke level tersebut, ia mencermati level support berikutnya di level US$9.650/ton.
“Outlook jangka pendek, [tembaga] cenderung bullish atau menguat. Gangguan pasokan dari Freeport dan pelemahan dolar AS akan terus menjadi katalis positif. Harga berpotensi menguji level US$10.500,” kata Wahyu.
-- Dengan asistensi Azura Yumna Ramadani Purnama
(wdh)






























