Obligasi pemerintah AS menguat, dengan imbal hasil dua tahun mendekati level terendah sejak September lalu. Dolar AS melemah.
Tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja dan tidak adanya kejutan inflasi yang signifikan memastikan proyeksi pasar uang bahwa The Fed akan memangkas suku bunga 25 basis poin (bps) pada September. Pertanyaan besarnya, bagaimanapun, ialah laju pelonggaran setelah itu karena inflasi masih jauh di atas target 2% bank sentral.
"Sekarang diskusi akan beralih pada seberapa agresif The Fed akan bertindak," kata Chris Larkin dari E*Trade di Morgan Stanley. "The Fed mungkin mengingatkan semua orang bahwa saat ini fokusnya pada lapangan kerja, tetapi mereka tidak melupakan separuh mandat mereka yang lain."
Pembuat kebijakan AS pada Rabu juga akan merilis pembaruan triwulanan proyeksi ekonomi dan suku bunga—yang dikenal sebagai dot plot—dan Gubernur The Fed Jerome Powell akan mengadakan konferensi pers rutin usai keputusan. Pada Juni, pejabat The Fed selisih tipis mendukung dua kali pemotongan suku bunga 25 bps pada 2025.
Fawad Razaqzada dari City Index dan Forex.com memandang bahwa yang akan benar-benar diperhatikan oleh pelaku pasar adalah nada Powell di konferensi pers dan proyeksi "dot plot."
"Saya akan mengamati bagaimana pasar bereaksi terhadap setiap pernyataan bahwa inflasi 'terkendali dengan baik' atau pasar tenaga kerja 'mendingin lebih dari perkiraan,'" katanya.
"Bahasa seperti itu akan menjadi kabar baik bagi para pesimis dolar. Di sisi lain, The Fed yang berhati-hati mengisyaratkan pendekatan 'wait and see' mungkin akan menghentikan reli, setidaknya untuk sementara."
Sebelumnya, Razaqzada menekankan ada juga beberapa data yang dapat menjaga pasar tetap dinamis sebelum dan sesudah keputusan tersebut. Penjualan ritel pada Selasa akan memperkuat narasi soft landing atau menimbulkan kekhawatiran baru mengenai permintaan konsumen.
Menurut Thierry Wizman dari Macquarie Group, mengacu pada data yang menunjukkan perusahaan-perusahaan AS semakin enggan membuka lowongan kerja, The Fed akan memotong suku bunga sebesar 25 bps pekan ini. Namun, bagi para petinggi bank sentral yang hawkish, kebijakan moneter tidak terlihat ketat.
"Jadi, Jay Powell akan menawarkan keseimbangan. Dia akan kembali menyoroti risiko penurunan pertumbuhan lapangan kerja, tetapi menghindari untuk mengisyaratkan sejumlah pemangkasan [panjang] setelah September," kata Wizman.
Lon Erickson dari Thornburg Investment Management mengatakan dia yakin The Fed belum siap memangkas 50 bps lagi tahun ini, seperti yang dilakukannya saat proses pemangkasan suku bunga pertama kali dimulai.
"Mempertimbangkan apa yang kita lihat terkait inflasi, yang sedikit lebih tinggi dari perkiraan, mereka akan tetap berhati-hati," katanya. "Kartu liarnya tetaplah inflasi. Pertanyaan kuncinya ialah bagaimana inflasi akan bergerak sepanjang sisa tahun ini dan apakah kita akan berakhir dalam kondisi stagflasi yang ditakuti, yang akan menempatkan The Fed dalam posisi sulit."
Erickson mengatakan ia lebih cenderung mengharapkan pemotongan suku bunga pada setiap pertemuan yang tersisa tahun ini di tengah melemahnya pasar tenaga kerja.
"Risiko jangka pendek berpusat pada ketegangan antara data tenaga kerja yang lemah dan respons The Fed yang mungkin tidak memenuhi 'kebutuhan kecepatan' pasar," kata Michael Wilson dari Morgan Stanley.
Namun, dia merekomendasikan untuk membeli saham saat terjadi penurunan, dan skenario paling bullish-nya memperkirakan S&P 500 naik ke 7.200 poin pada pertengahan 2026.
(bbn)






























