Logo Bloomberg Technoz

Kelesuan rupiah hari ini sepertinya karena sikap investor yang memasang mode wait and see. Pekan ini, bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve akan menggelar rapat. 

Satu yang ditunggu tentu pengumuman suku bunga acuan. Mengutip CME FedWatch, peluang penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke 4-4,25% dalam rapat pekan ini adalah 96,4%. Sedangkan kemungkinan pemangkasan 50 bos menjadi 3,75-4% adalah 3,6%.

“Perasaan saya mengatakan 25 bps. Kemudian perhatian investor akan tertuju kepada fokus The Fed. Apakah pasar tenaga kerja atau inflasi?” kata Jack McIntyre, Bond Portfolio Manager di Brandywine Global Investment Management, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Gareth Ryan, Direktur Pelaksana IUR Capital, menyebut bahwa pelonggaran moneter akan tercermin dalam perubahan dot plot, yang memperkirakan arah suku bunga acuan ke depan. Jika dot plot memberi konfirmasi ada pemotongan suku bunga pada akhir tahun ini dan kuartal I-2026, maka pasar akan bereaksi signifikan.

“Namun kalau dot plot tidak memberikan gambaran mengenai penurunan suku bunga pada kuartal I-2026, maka pasar bisa bereaksi lebih besar,” ujarnya, juga diberitakan Bloomberg News.

Saat suku bunga turun, maka berinvestasi di aset-aset berbasis dolar AS (terutama di instrumen berpendapatan tetap) menjadi kurang menarik. Namun selagi belum ada pengumuman dari Gubernur Jerome ‘Jay’ Powell, sepertinya investor memilih menunggu di pinggir lapangan, tidak melakukan gebrakan besar.

(aji)

No more pages