“Dalam konteks lingkungan kompetitif yang kami hadapi, itu juga merupakan pertanyaan yang sangat penting,” kata Fredrickson dalam sebuah wawancara. “Pertanyaan itu kini sudah terjawab secara pasti.”
Tagrisso sudah banyak digunakan untuk tumor yang dipicu oleh mutasi genetik EGFR, tetapi kini menghadapi pesaing baru. Awal tahun ini J&J mempresentasikan data head-to-head yang menunjukkan pasien dengan terapi kombinasi mereka hidup jauh lebih lama daripada mereka yang hanya mengonsumsi Tagrisso, dengan perbedaan yang diperkirakan perusahaan bisa mencapai satu tahun atau lebih setelah studi selesai.
Fredrickson menepis hasil awal J&J itu sebagai “sekadar proyeksi” yang paling baik hanya bisa menghasilkan hipotesis. Hasil Astra menunjukkan bahwa Tagrisso plus kemoterapi dapat menjadi standar perawatan, khususnya bagi pasien dengan penyakit yang lebih agresif atau mereka yang lebih muda dan lebih sehat, katanya.
J&J mengandalkan regimen terapinya, yang menambahkan obat intravena Rybrevant ke pil bernama Lazcluze, untuk akhirnya menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari US$5 miliar.
Kombinasi itu, yang disetujui tahun lalu, tidak memerlukan kemoterapi tetapi menimbulkan efek samping yang lebih parah dibandingkan hanya dengan Tagrisso. Data terbaru yang dipresentasikan di konferensi yang sama menunjukkan regimen J&J menyebabkan tingkat lebih tinggi pembekuan darah, ruam, infeksi kuku, dan reaksi di lokasi suntikan.
Tagrisso adalah obat kanker dengan penjualan tertinggi Astra, menghasilkan US$6,6 miliar pada 2024. Meskipun pertama kali disetujui sekitar satu dekade lalu, pendapatannya diperkirakan akan terus tumbuh dalam beberapa tahun mendatang karena Astra melakukan studi untuk mengeksplorasi manfaatnya bila digunakan bersama obat kanker lainnya.
(bbn)






























