Namun, dia memastikan demonstrasi tersebut terjadi di kota-kota besar di Indonesia dan tak berdampak pada operasional tambang timah yang mayoritas berada di wilayah Kepulauan Bangka Belitung.
“Keluhan tidak ada, cuma mereka [pelaku pasar] hanya bertanya kondisi situasi di Indonesia. Sementara itu, kalau kami kan di tambang kan memang tidak ada demo dan tidak terpengaruh dengan demo, karena kita di betul-betul tambang jauh dari perkotaannya,” ucap dia.
Dia juga memastikan bahwa seluruh operasional dan kegiatan ekspor timah tetap berjalan seperti biasa meskipun sempat terjadi aksi demonstrasi di sejumlah wilayah di Tanah Air.
“Begitu Selasa sudah mulai kondusif, nah kita juga infokan ke buyer semuanya kondusif dan kembali normal gitu,” tegas Harwendro.
Adapun, AETI sebelumnya memproyeksikan produksi timah Indonesia hanya mencapai 50.000 ton pada 2025, turun dibandingkan dengan realisasi tahun lalu sebanyak 52.000 ton. Di sisi lain, RI memasok sekitar 20% kebutuhan logam timah dunia.
Berdasarkan catatan AETI, produksi timah global pada 2024 didominasi oleh China dengan jumlah mencapai 175.000 ton. Indonesia berada di posisi kedua dengan produksi sebesar 52.000 ton, disusul Peru yang memproduksi sekitar 30.300 ton.
Sementara itu, Bolivia dan Malaysia mencatatkan produksi yang relatif berdekatan, masing-masing 16.500 ton dan 16.300 ton. Di bawahnya, Brasil menghasilkan sekitar 15.300 ton, sedangkan Thailand menutup daftar tujuh besar produsen timah dunia dengan produksi sebesar 9.600 ton.
Analis komoditas dan Founder Traderindo Wahyu Laksono memandang demonstrasi yang terjadi di Indonesia tak memengaruhi harga timah global, sebab aksi unjuk rasa tak terjadi di area pertambangan atau jalur distribusi yang dapat mengganggu operasional dan logistik salah satu komoditas andalan RI itu.
“Jika terjadi di area pertambangan dapat mengganggu operasional. Hal ini menyebabkan pasokan komoditas menurun, sementara permintaan tetap ada, yang secara teori akan mendorong kenaikan harga,” kata Wahyu.
Namun, Wahyu memandang bahwa demonstrasi dapat memengaruhi harga timah jika terjadi dalam waktu yang berkepanjangan hingga menciptakan ketidakpastian politik dan ekonomi.
Menurut dia, jika ketidakpastian tersebut terjadi, investor maupun pembeli dapat menjadi lebih hati-hati dalam melakukan tindakan sehingga bisa memengaruhi investasi dan perdagangan di sektor timah.
Timah batangan murni di pasar spot Shanghai Metal Market (SMM) diperdagangkan kisaran US$33.522 per metrik ton hingga US$33.769 per metrik ton atau rata-rata sebesar US$33.645 per metrik ton pada Kamis (4/9/2025). Atau turun 0,38% dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Sementara itu, harga timah di London Metal Exchange (LME) mencapai US$34.662/ton pada Kamis (4/9/2025), turun 0,20% dari penutupan sebelumnya.
Rerata harga timah pada tahun lalu mencapai US$30.000/ton, naik dari proyeksi sebelumnya di level US$28.000/ton, ditopang oleh sentimen gangguan pasokan di produsen utama Myanmar dan Indonesia, menurut data BMI, unit riset Fitch Solutions.
(azr/wdh)





























