Logo Bloomberg Technoz

Pada Mei tahun lalu, satu orang meninggal dan puluhan penumpang mengalami cedera serius ketika penerbangan Singapore Airlines Ltd. dari London ke Singapura mengalami turbulensi parah di atas Myanmar. Pada September, satu penumpang dan satu awak kabin cedera dalam penerbangan tujuan Guangzhou yang menghadapi turbulensi di atas Hong Kong. Para investor masih terus menyelidiki penyebab kecelakaan Mei tersebut.

Segera setelah insiden pertama itu, maskapai-maskapai berupaya menerapkan berbagai langkah termasuk melatih kru penerbangan menghadapi skenario terkait turbulensi serta meningkatkan sistem prakiraan dan deteksi.

Ketidakstabilan di udara kini menjadi bahaya yang semakin umum bagi maskapai maupun penumpang seiring meningkatnya kepadatan lalu lintas udara global, yang berarti lebih banyak pesawat terbang di langit yang padat, sering kali melewati sistem badai yang sama. Perubahan iklim juga menjadi faktor: suhu yang lebih hangat di ketinggian jelajah memperkuat arus jet dan menciptakan kondisi yang terkait dengan meningkatnya frekuensi turbulensi udara jernih (clear-air turbulence).

Beberapa rekomendasi CAAS dalam rencana keselamatan terbaru mencakup peningkatan akurasi informasi meteorologi, peningkatan prakiraan turbulensi dan sistem deteksi di dalam pesawat, berbagi data turbulensi secara real-time secara global, serta penerapan lebih luas radar cuaca modern dan aplikasi kesadaran turbulensi bagi pilot.

“Serangkaian insiden serius keselamatan penerbangan baru-baru ini di seluruh dunia menjadi pengingat tepat waktu bahwa kita harus tetap waspada dan tidak menganggap keselamatan sebagai hal yang pasti,” kata Han Kok Juan, Direktur Jenderal CAAS. 

“Rencana Keselamatan Penerbangan Nasional adalah seruan bagi sektor penerbangan Singapura untuk bekerja sama memastikan keselamatan penerbangan saat kita memposisikan diri untuk tumbuh.”

(bbn)

No more pages