Rekor sebelumnya tercipta pada 21 April. Kala itu, harga sang logam mulia ditutup di US$ 3.434,4/troy ons.
Harga emas pun melanjutkan tren positif. Sepanjang 2025 (year-to-date), harga aset ini sudah melesat 34,44%. Dalam setahun terakhir, harga meroket 41,51%.
Ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS) menjadi katalis utama pengungkit harga emas. Pasar meyakini bahwa bank sentral Federal Reserve akan memotong suku bunga acuan dalam rapat bulan ini.
Mengutip CME FedWatch, probabilitas penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4-4,25% dalam rapat September adalah 91,7%. Seminggu yang lalu, kemungkinannya masih 87,8% dan sebulan lalu adalah 80,3%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas akan lebih menguntungkan saat suku bunga turun.
“Investor menambah alokasi ke emas karena ekspektasi penurunan suku bunga acuan membesar, dan ini mendorong kenaikan harga. Skenario dasar kamu adalah harga emas akan terus mencetak rekor baru pada kuartal-kuartal ke depan. Iklim suku bunga rendah, data ekonomi yang landai, dan ketidakpastian ekonomi serta risiko geopolitik akan meningkatkan peran emas sebagai sarana diversifikasi portofolio,” terang Joni Teves, Strategist di UBS Group AG, seperti dikutip dari Bloomberg News.
(aji)



























