Meskipun begitu, dia menegaskan harga jual modul panel surya produksi Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan dengan produk impor.
Harga modul panel surya pada 2023, produk impor tercatat sekitar Rp3.300—Rp4.500 per watt peak (WP) dan produk lokal di rentang Rp4.900—Rp7800/Wp hingga Rp5.000—Rp8.500/Wp.
Dengan begitu, dia mendorong agar pemerintah memberikan dukungan kepada produsen modul panel surya melalui pemberian insentif fiskal agar dapat meningkatkan daya saing produk modul panel surya Indonesia.
Adapun, kata Alvin, pada Mei 2025 Indonesia sempat tercatat sebagai eksportir modul panel surya terbesar ke Amerika Serikat (AS). Kala itu, Indonesia mengekspor sekitar 1.000 megawatt (MW) modul panel surya ke AS.
“Ini dikarenakan oleh tarif resiprokal yang tinggi yang diterapkan di negara-negara tetangga seperti Vietnam dan juga Kamboja sedangkan Indonesia sendiri tidak mendapatkan tarif yang relatif tidak begitu tinggi dibandingkan dengan negara-negara tersebut,” pungkas dia.
Untuk diketahui, berdasarkan analisis Bloomberg News terhadap data dagang dan catatan korporasi, 10 eksportir panel dan sel surya terbesar Indonesia menjual produk senilai US$608 juta ke AS sepanjang paruh pertama 2025.
Enam perusahaan di antaranya berbasis di Batam, menurut catatan perusahaan, dimiliki oleh eksekutif dari perusahaan surya asal China. Keenam perusahaan itu menyumbang hampir 70% dari total ekspor ke AS.
Beberapa raksasa surya asal China telah masuk Batam dalam 2 tahun terakhir, disebut memproduksi panel-panel khusus untuk pasar AS.
Sepanjang Januari hingga Mei 2025, ekspor surya Indonesia ke AS tembus US$733 juta — melonjak 350% dibanding periode yang sama tahun lalu, menurut data bea cukai AS.
Contohnya PT Rec Solar Energy Indonesia, kini menjadi eksportir panel surya terbesar dari Indonesia ke AS. Perusahaan itu mengirimkan produk senilai US$219 juta ke AS sepanjang semester I-2025 — hampir seluruh produksinya.
Catatan perusahaan di Indonesia dan China juga menunjukkan bahwa 5 perusahaan lain di Batam — PT Nusa Solar Indonesia, PT Blue Sky Solar Indonesia, PT Allianz Solar Indonesia, PT Thornova Solar Indonesia, dan PT Msun Solar Indonesia — dimiliki oleh direksi atau anak usaha perusahaan surya asal China.
Secara total, enam perusahaan yang disebutkan menjual panel dan sel surya ke AS senilai US$419 juta pada paruh pertama 2025 — naik 148% dari tahun sebelumnya.
Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia menyimpan potensi energi solar mencapai 3.294 GWp, namun hingga Desember 2024 lalu, baru 912 MW yang dimanfaatkan.
(azr/wdh)





























