Hasil ini menegaskan ekspektasi bahwa tarif impor tinggi yang diberlakukan Presiden Donald Trump akan berdampak luas pada harga konsumen dan baru akan mereda secara bertahap pada tahun depan.
Survei pada 22-27 Agustus terhadap 79 ekonom menunjukkan ekonomi akan terus menyesuaikan diri dengan dampak kebijakan perdagangan dan investasi Trump yang ia harapkan akan memicu pertumbuhan lebih kuat.
Survei ini juga menunjukkan bahwa The Fed akan tetap dihadapkan dengan tekanan harga yang membandel dan aktivitas ekonomi yang kurang menggembirakan.
Pekan lalu, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan dampak tarif tinggi terhadap harga "kini terlihat jelas." Namun, ia dengan hati-hati membuka peluang penurunan suku bunga pada September mengingat adanya risiko lebih besar terhadap melemahnya pasar tenaga kerja.
Para ekonom dalam survei Bloomberg memperkirakan tingkat pengangguran akan naik menjadi 4,4% pada kuartal keempat dan bertahan di level tersebut hingga sebagian besar tahun 2026.
Namun, para ekonom kini memperkirakan peluang resesi dalam 12 bulan ke depan sebesar 32%, terendah sejak Maret. Meski pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan diperkirakan moderat, responden melihat adanya percepatan pertumbuhan investasi bisnis hingga 2026.
Biro Analisis Ekonomi kemarin melaporkan ekonomi AS tumbuh sedikit lebih cepat pada kuartal kedua daripada perkiraan awal, didorong oleh makin meningkatnya produk kekayaan intelektual dan peralatan bisnis.
(bbn)































