Ditemui terpisah, Division Head Processing and Refinery PT Timah Sofian Simangunsong mengungkapkan wacana peralihan penggunaan bahan bakar dari batu bara menjadi gas tersebut baru dalam pembahasan dan akan terus di jajaki secara teknis oleh PT Timah.
Dia menyebut perseroan telah bertemu dengan vendor teknologi untuk menggunakan bahan bakar gas tersebut, yakni Auto Tech.
“Smelter Ausmelt baru dua tahun, kan itu wacana di kita. Baru kami jajakin secara teknis saja. Kami sudah diskusi dengan vendor teknologinya,” ujarnya.
“Nanti kami cek lagi apa penawarannya, seperti apa, ini belum intens ya sebenarnya. Akan tetapi, arahnya ke sana [menggunakan gas].”
Lebih Efisien
Penggunaan bahan bakar gas sejatinya bisa dilakukan karena tidak banyak menggunakan peralatan. Sofian menyebut PT Timah pernah mengunjungi smelter Ausmelt di Peru dan mereka memang menggunakan gas.
“Jadi sebenernya permasalahannya hanya ketersediaan gas, bukan dari sisi teknologinya,” tuturnya.
Smelter Ausmelt di Indonesia, kata dia, menjadi satu-satunya menggunakan batu bara sedangkan smelter Ausmelt lainnya sudah menggunakan gas.
Hal itu lantaran kajian awal smelter Ausmelt di desain menggunakan batu bara karena dekat dengan PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA), perusahaan penghasil batu bara yang berlokasi di Sumatra Selatan atau tidak jauh dari lokasi smelter Ausmelt timah di Muntok, Kabupaten Bangka Barat.
“Sebenarnya suplai gas itu enggak harus melalui pipa ternyata bisa lewat tangki juga,” ucapnya.
Menurutnya, penggunaan gas pada smelter Ausmelt nantinya tidak akan menggunakan jaringan gas, tetapi bisa menggunakan compressed natural gas (CNG).
Di sisi lain, Sofian mengatakan PT Timah belum menghitung secara terperinci ihwal keekonomisan penggunaan gas dibandingkan dengan batu bara.
Akan tetapi, jika dilihat secara keuntungan lainnya yakni dari sisi pembakaran, penggunaan gas akan lebih efisien dari batu bara.
“Kalau sekilas sih pasti perbandingan kalorinya ya lebih mahal gas karena transportasinya gitu kecuali sudah ada jalur gas sendiri. Namun, semahal apa jika dibandingkan dengan ada benefit lainnya, dari sisi efisiensi,” tambahnya.
Dia menjelaskan, dari sisi operasional, perseroan akan lebih gampang mengontrol temperatur gas karena lebih merata dan spontan dibandingkan dengan batu bara. Sejauh ini, kata dia, kebutuhan batu bara smelter tersebut hanya 12.000 ton per tahun.
“Kebutuhan batu baranya enggak banyak, logikanya kebutuhan gasnya pun sekitar itu. Makanya, bayangan kita harusnya gas pun feasible,” imbuhnya.
Lebih jauh, Sofian mengungkapkan saat ini PT Timah akan fokus terhadap pengoperasian smelter. Dia mengaku masih perlu banyak pelatihan khususnya dalam penggunaan teknologi.
Sekadar catatan, sistem kerja TSL Ausmelt Furnace dilaksanakan dengan proses automasi dengan sistem kontrol, sehingga bisa mengurangi dampak risiko kecelakaan kerja dan juga efektivitas kerja dengan teknologi pengolahan timah yang lebih modern.
Keunggulan lain dari smelter TSL Ausmelt adalah kapasitasnya yang besar dibandingkan dengan teknologi smelter yang digunakan TINS sebelumnya, yaitu tanur berbasis reverberatory furnance.
Bahkan, satu Ausmelt tersebut dapat menggantikan delapan teknologi reverberatory yang sudah dipakai puluhan tahun lamanya oleh PT Timah yang terletak di Muntok, Bangka Barat.
Proyek TSL Ausmelt Furnace senilai Rp1,2 triliun tersebut merupakan salah satu proyek strategis di holding BUMN sektor pertambangan atau PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) yang telah mulai komisioning pada kuartal IV-2022.
PT Timah merupakan produsen kelima di dunia yang menggunakan TSL Ausmelt Furnace. Teknologi ini telah lama digunakan oleh produsen timah asal Peru, Minsur pada 2000 dan Yunan Tin dari China sejak 2002.
Adapun, TSL Ausmelt Furnace mampu mengolah bijih timah kadar rendah mulai dari 40%—70% Sn dengan kapasitas produksi mencapai 40.000 ton crude tin per tahun atau lebih fleksibel ketimbang teknologi lama yang dimiliki PT Timah sebelumnya, yakni tanur reverberatory furnace karena hanya mampu mengolah bijih timah kadar lebih dari 70% Sn.
Dari sisi waktu pengolahan, TSL Ausmelt Furnance juga relatif lebih singkat. Untuk satu batch, pengolahan Ausmelt hanya membutuhkan waktu sekitar 10,5 jam. Sementara itu, pada reverberatory membutuhkan waktu 24 jam per batch.
(mfd/wdh)




























