Logo Bloomberg Technoz

Sepertinya pasar sedang melakukan aksi ambil untung (profit taking) terhadap aset-aset keuangan Tanah Air. Maklum, reli yang sempat terjadi sudah lumayan panjang.

Kemarin, imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 2 tahun turun 13,8 basis poin (bps). Kemudian untuk tenor 5 dan 10 tahun berkurang masing-masing 6,8 bps dan 2,3 bps. Penurunan yield menandakan harga obligasi sedang naik.

“Sentimen bullish di pasar SUN berpotensi berbalik arah hari ini akibat keputusan mengejutkan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memecat Anggota Dewan Gubernur The Fed Lisa Cook dengan tuduhan memalsukan dokumen hipotek pada 2021. Tindakan ini tidak serta merta membuat para pejabat The Fed akan merubah posisi kebijakan moneter mereka mengikuti arahan Presiden Trump karena dapat diperkarakan secara hukum ke Mahkamah Agung AS,” papar riset Mega Capital Sekuritas. 

Pasar, lanjut riset tersebut, berpotensi bereaksi negatif karena tindakan ini dapat merusak independensi bank sentral. Instrumen jangka pendek dan emas berpotensi menjadi pilihan di tengah kemungkinan guncangan di pasar.

“Rupiah berpotensi terdepresiasi ke rentang Rp 16.300-16.400/US$ hari ini akibat menguatnya indeks dolar menjadi 98,4 semalam,” tambah riset tersebut.

- Dengan asistensi Ruisa Khoiriyah -

(aji)

No more pages