Logo Bloomberg Technoz

“Kami bisa membuat kemajuan besar dengan Korea Utara,” kata Trump di Oval Office saat duduk bersama Lee.

Dalam pertemuan itu, Lee memuji kenaikan bursa saham AS, dekorasi emas di Oval Office, serta peran Trump dalam menjaga perdamaian. Ia juga meminta Trump lebih fokus mengakhiri ketegangan di Semenanjung Korea. Bahkan, Lee sempat melontarkan ide bahwa Trump bisa membangun menara dengan namanya sendiri di Korea Utara jika perdamaian tercapai.

Trump menyatakan ingin kembali bertemu Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, dan menyebut keduanya sudah “sangat akrab” setelah dua kali bertemu dalam masa jabatan pertamanya.

Trump juga memberi selamat atas kemenangan Lee di pemilu Korsel. “Kami mendukung Anda 100%,” katanya, meski sebelumnya sempat mempertanyakan stabilitas politik di Seoul.

Kedua pemimpin juga menyinggung kerja sama perkapalan. Trump berjanji akan membeli kapal buatan Korsel, sementara Lee menyebutkan rencana investasi swasta Korsel di AS senilai sekitar US$150 miliar.

Namun, suasana ramah itu tetap dibayangi ketegangan soal perdagangan. Pada Juli lalu, kedua negara mencapai kesepakatan dagang menit terakhir yang membatasi tarif ekspor AS ke Korsel. Dengan kesepakatan itu, Seoul terhindar dari ancaman tarif 25% yang sempat dilontarkan Trump. Meski demikian, pejabat AS menilai perjanjian itu terlalu menguntungkan Korsel, termasuk terkait janji investasi US$350 miliar yang belum jelas rinciannya.

Pertemuan Senin juga diperkirakan membahas isu pertahanan, yang sempat coba dimasukkan Seoul dalam paket kesepakatan tarif.

Sebelum bertemu Lee, Trump sempat menyindir kondisi politik di Korsel. Ia menyebut situasinya seperti “Pembersihan atau Revolusi” dan menuding ada penggerebekan terhadap gereja-gereja di bawah pemerintahan baru, bahkan sampai ke pangkalan militer AS.

Komentar itu muncul setelah Lee memperingatkan bahwa sejumlah pejabat AS ingin membuka ulang kesepakatan dagang Juli lalu. “Sebagian di Washington menilai perjanjian itu terlalu menguntungkan Korea. Kami tidak bisa menerima upaya sepihak untuk membongkar kesepakatan yang sudah disetujui kedua presiden,” kata Lee dalam perjalanan menuju Washington.

Kondisi politik Korsel sendiri memang rapuh. Lee naik ke tampuk kekuasaan setelah pendahulunya, Yoon Suk Yeol, digulingkan oleh pengadilan pada April, menyusul keputusan mengejutkan Yoon untuk memberlakukan darurat militer pada Desember lalu. Kejatuhan Yoon memicu krisis konstitusional terburuk dalam beberapa dekade, dan menimbulkan aksi protes besar dari para pendukung konservatifnya.

Trump sempat menanyakan langsung isu penggerebekan itu di awal pertemuan. Setelah Lee menjelaskan bahwa hal itu merupakan buntut dari gejolak politik sebelum masa jabatannya, Trump menanggapi, “Saya yakin ini hanya kesalahpahaman.”

Respons itu menunjukkan upaya Lee merayu Trump berhasil menjaga pertemuan tetap berjalan sesuai rencana.

(bbn)

No more pages