Logo Bloomberg Technoz

Kebijakan moneter global juga menjadi faktor penting. The Fed diperkirakan memangkas suku bunganya 2 hingga 3 kali, masing-masing 25 bps, sepanjang 2025. Hal ini akan memberi ruang tambahan bagi BI untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga.

Menurut Fakhrul, pasar keuangan domestik masih akan dibalut euforia pasca pemangkasan suku bunga. Ia memprediksi sektor perbankan menjadi motor penggerak indeks saham, mendorong IHSG menuju level psikologis 8.000. “Saham perbankan akan menjadi primadona karena diuntungkan dari kebijakan ini,” ujarnya.

Namun, risiko global tetap membayangi. Fakhrul menyebut beberapa hal yang perlu diwaspadai, mulai dari potensi lonjakan nilai tukar yen, eskalasi isu geopolitik, hingga lambatnya transmisi kebijakan moneter ke sektor perbankan domestik.

Mengenai nilai tukar rupiah, Fakhrul optimistis. Ia memperkirakan rupiah berpotensi menguat ke 15.800 per dolar AS pada akhir kuartal III 2025. Bahkan, di akhir tahun, rupiah bisa melanjutkan penguatan menuju 15.500.

Penguatan ini, kata dia, didukung oleh realokasi cadangan devisa negara-negara surplus Asia dari instrumen US Treasury ke aset negara mitra dagang, termasuk obligasi pemerintah Indonesia. “Arus masuk ini akan memperkuat sentimen positif bagi rupiah,” tambahnya.

Dengan kombinasi faktor domestik dan eksternal, rupiah diperkirakan tetap stabil hingga akhir tahun. Namun pemerintah dan Bank Indonesia dituntut untuk mengelola risiko inflasi pangan dan menjaga kredibilitas kebijakan moneter agar momentum penguatan tetap berlanjut.

(rst)

No more pages