“Narasi-narasi ini seakan-akan kerja keras tim licensi, tim distribusi dan seakan-akan WAMI tidak bisa kerja. Saya nggak paham ada narasi-narasi tersebut. Tapi karena harus klarifikasi , harus kasih tau ke masyarakat jauh dari angka yang kita kirimkan, ini gak fair,” ungkap Adi.
Adi menuturkan budaya untuk menghargai royalti di Indonesia masih minim. Sehingga WAMI harus bekerja keras untuk mengumpulkan.
Sebelumnya, Ari Lasso mengajak musisi dan WAMI duduk bersama membahas transparansi royalti. Ia menyindir, perhitungan pembagian royalti perlu dijelaskan “pakai rumus trigonometri, aljabar, diferensial, atau mekanika kuantum” karena dari “puluhan juta” yang diharapkan, ia hanya menerima Rp760 ribu.
Ari mengajak perwakilan musisi dan WAMI bertemu secara terbuka “tanpa lobi-lobi remang” demi perbaikan ekosistem musik Indonesia.
(spt)


























