“Dan ternyata benar, semenjak bulan Juni akhir dan awal Juli itu sudah terjadi gejala-gejala penawaran gula ini ada di bawah Rp14.500, tapi berbagai ya diskusi dengan pedagang kita tawar-menawar masih bisa sebagian dipertahankan. Nah, yang semenjak masuk di bulan Juli Agustus ini ternyata hampir semua penawaran itu ada di angka Rp14.500.” kata Soemitro.
APTRI menyebut para pedagang gula tak lagi membeli gula dari produsen gula yang diproduksi oleh pabrik-pabrik mereka. Bahkan APTRI menduga bahwa gula yang beredar di pasaran tersebut merupakan gula rafinasi lantaran bentuk fisiknya yang lebih lembut dan kecil.
“Kami meyakini dan menduga dengan sangat bahwa itu pasti dibeli lebih murah dari gula kami karena toh penawaran dari pedagang di bawah Rp14.500 mereka di bawah juga banyak marah masih gula-gula yang dijual itu tentu bukan dari gula kristal konsumsi yang diproduksi oleh pabrik-pabrik kita.” katanya.
Akibatnya, cadangan gula mereka menumpuk menjadi 100 ribu ton. Saat ini, APTRI mengharapkan pemerintah turun tangan untuk membeli gula mereka dengan harga yang diputuskan oleh pemerintah yakni sebesar Rp14.500 per kilogramnya.
Apalagi dengan menumpuknya cadangan gula ini, produsen musti memiliki arus kas yang cukup demi mencukupi kebutuhan sirkulasi pada musim giling ini, termasuk menggaji karyawan.
(ell)




























