“Jadi saya pikir pertimbangan-pertimbangan yang tadi saya sebutkan itu mungkin perlu dipertimbangkan juga oleh Danantara."
Dihubungi secara terpisah, Ketua Badan Kejuruan (BK) Pertambangan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Rizal Kasli menegaskan proses due diligence yang dilakukan Danantara ketika mengakuisisi GNI harus dilakukan secara ketat.
Dia menyebut uji kelayakan tersebut perlu mempertimbangkan sejumlah aspek seperti kepastian hukum, kondisi serta teknologi smelter, dan aspek sosial. Terlebih, komoditas nikel dipandang tengah tertekan hingga akhirnya membuat keuntungan smelter RKEF tergerus bahkan bisa merugi.
Momen Tepat
Akan tetapi, dia memandang Danantara dapat untung jika mengakuisisi GNI dalam waktu dekat. Penyebabnya, valuasi harga PT GNI tengah turun akibat pengaruh kondisi industri nikel serta kondisi induk perusahaan di China.
“Dengan kondisi saat ini yang kurang menarik tentu akan berpengaruh kepada harga akuisisinya dan umumnya akan jauh lebih murah daripada kalau akuisisi dilakukan pada saat kondisi harga komoditas sedang tinggi-tingginya atau perusahaan sedang dalam posisi sangat menguntungkan,” kata Rizal ketika dihubungi, Kamis (14/8/2025).
Dengan demikian, dirinya juga mendorong agar Danantara segera mewujudkan rencananya tersebut agar keuntungan yang didapat maksimal. Namun, dia menegaskan Danantara juga perlu memperhatikan sejumlah aspek utamanya terkait kelesuan pasar nikel.
“Seharusnya begitu [secepat mungkin akuisisi dilakukan]. Akan tetapi, semua itu kan berdasarkan negosiasi business to business. Danantara memiliki posisi yang lebih bagus dan diuntungkan sebagai bagian dari bisnis pemerintah,” tegasnya.
Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara Rosan Roeslani sebelumnya mengonfirmasi tengah membuka peluang mengakuisisi smelter PT GNI, yang notabene merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN) hilirisasi nikel. Rencana investasi itu saat ini tengah dikaji.
Rosan menyatakan Danantara memang tengah mengkaji investasi ke proyek hilirisasi serupa. Jika smelter milik anak usaha Jiangsu Delong Nickel Industry Co. itu masuk kedalam kriteria investasi, tegasnya, Danantara bisa saja berinvestasi di PT GNI.
“Kan ada beberapa proyek yang on the pipeline yang kita lihat. Ya kita lihat aja kalau yang memang feasible dan memang baik, ya kita kaji semua kok," kata Rosan ketika ditemui di Kementerian ESDM, Selasa (22/7/2025).
Sekadar catatan, sejak awal 2025, GNI telah memangkas kapasitas operasional smelter-nya menjadi hanya 30%—40% dari total, alias hanya menjalankan 12 dari 25 lini produksinya, menyusul penyesuaian manajemen dan isu pasokan.
Gangguan produksi GNI—yang menyerap sekitar 10.900 tenaga kerja — salah satunya dipicu oleh krisis keuangan Jiangsu Delong, penurunan harga nikel global, dan keterlambatan pembayaran ke pemasok energi serta bijih nikel.
GNI melalui pernyataan pada 25 Februari 2025 sempat menegaskan bahwa operasional smelter-nya masih berjalan, di tengah penyesuaian manajemen agar kinerja perseroan lebih kuat.
Smelter GNI juga masuk dalam PSN berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 7 Tahun 2021, yang tergabung dalam proyek bersama PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI).
Adapun, nikel diperdagangkan di harga US$15.264 per ton pada Kamis (14/8/2025) di London Metal Exchange (LME), terkoreksi 0,44% dari penutupan perdagangan sebelumnya.
(azr/wdh)





























