Meski demikian, Bhandari menilai capaian tersebut belum cukup menutup kesenjangan keluaran atau output gap perekonomian.
"Kita membutuhkan pertumbuhan yang lebih tinggi dan lebih lama agar output gap ini tertutup. Jadi, meskipun kuartal Juni cukup baik, kita perlu angka yang lebih tinggi lagi dalam beberapa kuartal ke depan," tekannya.
Oleh karena itu, dia menekankan, investasi korporasi menjadi kunci untuk mendorong kapasitas ekonomi dan menciptakan lapangan kerja bergaji tinggi. Namun saat ini, banyak perusahaan masih memilih menabung ketimbang menanamkan modal baru.
Bhandari turut melihat peluang jangka menengah bagi Indonesia dari pergeseran rantai pasok global, meski dalam jangka pendek ekspor ke Amerika Serikat (AS) tertekan tarif tinggi sekitar 19-20%. Kondisi ini berpotensi mengurangi pertumbuhan sekitar 0,3 poin persentase, tetapi sekaligus membuka peluang Indonesia menarik manufaktur baru di sektor barang konsumsi seperti tekstil, pakaian, alas kaki, dan furniture.
"Perusahaan multinasional mencari lokasi baru untuk memproduksi dan menjual. Saya rasa, setelah badai tarif mereda, Indonesia bisa mendapat manfaat. Alasannya, saat ini ekspor Indonesia ke Tiongkok hampir 100% komoditas."
"Namun ekspor Indonesia ke negara maju seperti AS atau Uni Eropa berisi lebih banyak barang konsumsi seperti tekstil, furniture, alas kaki—hanya saja volumenya kecil dan perlu diperbesar. Misalnya, hanya 9% ekspor Indonesia yang masuk ke AS. Untuk ekspor pakaian jadi, nilainya hanya 25% dari ekspor Vietnam. Jadi Indonesia sebenarnya sudah memproduksi barang-barang ini, tetapi perlu ditingkatkan skalanya," jelasnya.
Di samping itu, agar peluang tersebut terwujud, ia menilai Indonesia perlu mempercepat reformasi, mulai dari pembangunan infrastruktur, perluasan perjanjian dagang dengan negara maju, pengembangan tenaga kerja terampil, hingga penyederhanaan prosedur bisnis.
"Jika semua ini bisa dilakukan dengan baik, dalam 2–3 tahun peluang ini bisa menarik investasi asing langsung [FDI] dan mendorong pertumbuhan," pungkasnya.
Kalangan ekonom sebelumnya meragukan laporan BPS soal kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 yang mencapai 5,12%, jauh melebihi ekspektasi yang sebelumnya telah diprediksi berbagai pakar yang justru tak sampai 5%.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dan Segara Research Institute mempertanyakan keabsahan data pertumbuhan ekonomi Indonesia
Kepala Center of Industry, Trade and Investment Indef, Andri Satrio Nugroho, menilai data pertumbuhan ekonomi terbaru tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan dan berpotensi menjadi anomali atau bentuk window dressing.
Senada, Direktur Segara Research Institute, Piter Abdullah, menyebut data tersebut tidak sejalan dengan sejumlah indikator utama yang justru menunjukkan pelemahan, seperti konsumsi rumah tangga, penerimaan PPN, dan indeks PMI.
(lav)




























