Logo Bloomberg Technoz

Kementerian Perdagangan dan Industri India belum memberikan komentarnya mengenai laporan berita ini.

Pada Rabu, Trump meneken perintah eksekutif mengenai tarif 25% atas impor India, dengan alasan negara tersebut terus membeli minyak Rusia. Besaran bea masuk ini menambah tarif 25% yang diumumkan pekan lalu. Tarif lebih tinggi berlaku tiga pekan lagi, menyisakan sedikit waktu untuk perundingan lebih lanjut.

Pejabat India berencana mengupayakan jalur diplomatik dan perdagangan sebelum mempertimbangkan pembalasan. Tujuan mereka ialah memperoleh perjanjian bilateral yang menjaga otonomi strategis India.

Kementerian Luar Negeri India mengungkap impor minyak Rusia diperlukan demi ketahanan energi dalam negeri. Kemlu juga mengkritik Trump yang hanya menghukum India, padahal banyak negara lain melakukan hal yang sama.

"Kami menegaskan kembali bahwa tindakan ini tidak adil, tidak bisa dibenarkan, dan tidak masuk akal," kata juru bicara Kemlu dalam pernyataan pada Rabu.

Kepala Penasihat Ekonomi State Bank of India Group dan anggota Dewan Penasihat Ekonomi PM, Soumya Kanti Ghosh menyampaikan India merupakan pasar ekspor utama bagi AS dan memilih tetap teguh. "Semoga, kesepakatan dagang yang menguntungkan kedua negara tercapai dalam tiga pekan ke depan."

'Tidak Ada Logika'

Tarif Trump mengejutkan dan mengecewakan India, terutama setelah kedua pihak dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan kemajuan menuju potensi kesepakatan dagang. Pejabat Kemlu India mengkritik pendekatan Washington, mengatakan bahwa "tidak ada logika atau alasan" di balik aksi terbarunya.

Donald Trump saat bertemu Narendra Modi. (Bloomberg)

Bahkan rival politik Modi mengecam Trump—momen langka persatuan bipartisan karena opini publik di dalam negeri semakin mendukung PM Narendra Modi. Trump—hingga baru-baru ini—menjalin hubungan hangat dengan Modi.

Rahul Gandhi, pemimpin partai oposisi Kongres, menyebut Trump sebagai pengganggu dan memperingatkan Modi agar tidak menyerah pada "pemerasan ekonomi."

Anggota parlemen oposisi lainnya, Priyanka Chaturvedi mengkritik "kemunafikan AS," merujuk pada perdagangan AS dengan Rusia. "Pertanyaan yang muncul adalah pembalasan apa yang akan kita pertimbangkan?" ujarnya kepada ANI.

Para eksportir India mengutarakan kekhawatirannya, tetapi juga berjanji akan mendukung pemerintah. "Industri ini bersedia menanggung risiko," kata Pankaj Chadha, Ketua Dewan Promosi Ekspor Teknik.

Sekretaris Hubungan Ekonomi Kemlu, Dammu Ravi menjelaskan India akan menjajaki peluang dagang baru di Asia Selatan, Afrika, dan Amerika Latin.

"Sangat wajar negara-negara mencari alternatif saat mereka terdampak tembok tarif di belahan dunia mana pun," ujarnya, dalam siaran televisi, seraya mengatakan perundingan dengan AS sedang berlangsung dan meyakini penyelesaian masih mungkin terjadi.

Modi sejauh ini menghindari menyebut Trump secara langsung, meski ia telah mendesak warga India untuk membeli barang-barang lokal. Pada Kamis, ia mengatakan siap "membayar harga yang mahal" untuk melindungi kepentingan petani dan nelayan.

Meski ada reaksi negatif di dalam negeri, pemerintahan Modi tidak secara aktif mempertimbangkan pembalasan. Salah satu alasannya, kata sumber yang mengetahui, adalah pengaruh ekonomi India yang terbatas dibandingkan dengan China, yang memegang kendali atas ekspor tanah jarang. Meski China terus membeli lebih banyak minyak Rusia daripada India, dominasi perdagangan Beijing membuatnya sebagai target yang lebih sulit bagi AS. 

Namun, India mempertahankan haknya di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk membalas tarif sektoral AS yang lebih tinggi atas komponen baja dan otomotif dengan menangguhkan konsesi atas beberapa barang AS.

(bbn)

No more pages