Melemahnya IHSG merupakan efek secara langsung dari tertekannya sejumlah saham big caps, terutama jelang penutupan perdagangan hari ini.
Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Kamis (7/8/2025).
- DCI Indonesia (DCII) mengurangi 37,55 poin
- Barito Pacific (BRPT) mengurangi 6,86 poin
- Telkom Indonesia (TLKM) mengurangi 4,57 poin
- GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) mengurangi 4,3 poin
- Chandra Daya Investasi (CDIA) mengurangi 4,12 poin
- Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 3,46 poin
- Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) mengurangi 2,89 poin
- Bank Mandiri (BMRI) mengurangi 1,75 poin
- Merdeka Battery Materials (MBMA) mengurangi 1,24 poin
- Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) mengurangi 1,23 poin
Adapun saham–saham teknologi juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Sentral Mitra Informatika Tbk (LUCK) drop 14,7%, saham PT Teknologi Karya Digital Nusa Tbk (TRON) terpeleset 4,72%, dan saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) juga melemah dengan kehilangan 4,03%.
Disusul oleh pelemahan saham infrastruktur, yaitu saham PT Meratus Jasa Prima Tbk (KARW) yang turun 9,41%, saham PT Fimperkasa Utama Tbk (FIMP) melemah 8,43%, dan saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) yang mencetak pelemahan 3,08%.
Analis Phintraco Sekuritas menyebut, pasar disinyalir merespon negatif diberlakukannya tarif resiprokal mulai 7 Agustus 2025 pada hari ini, di mana Indonesia dikenakan tarif sebesar 19% oleh Amerika Serikat. Profit taking lanjutan pada saham-saham konglomerasi juga ikut membebani indeks.
Secara teknikal, lanjut Phintraco, indikator stochastic RSI pada IHSG sudah berada di area oversold dengan penurunan yang mulai melandai. Namun indikator MACD mengindikasikan berlanjutnya reversal dengan histogram negatif yang membesar.
“Tekanan volume jual juga mengalami kenaikan.”
Data cadangan devisa Indonesia pada Juli 2025 juga jadi sentimen, di mana cadangan devisa Indonesia tercatat turun menjadi US$152 miliar dari sebelumnya US$152,6 miliar. Biarpun cadangan devisa berada pada level terendah selama delapan bulan, namun posisi saat ini masih cukup untuk membiayai 6,3 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri, di atas standar internasional sekitar 3 bulan impor.
Selanjutnya investor akan menantikan dirilisnya indeks consumer confidence bulan Juli yang diperkirakan membaik pada level 118,4 dari 117,8 pada Juni 2025 (8/8/2025).
“Perkembangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.” sebut keterangan tertulis BI.
(fad/wep)



























