Logo Bloomberg Technoz

Sistem harga ganda, di mana wisatawan asing membayar lebih mahal daripada penduduk lokal untuk mengunjungi taman nasional, museum, dan situs bersejarah, semakin populer di seluruh dunia sebagai cara untuk meningkatkan pendapatan bagi infrastruktur atau mengendalikan pariwisata berlebihan (overtourism).

Bulan lalu, Presiden AS Donald Trump menginstruksikan Menteri Dalam Negeri untuk mempertimbangkan kenaikan tarif bagi non-residen di taman nasional yang sudah mengenakan biaya masuk. Sementara itu, beberapa tempat di Jepang baru-baru ini mulai memberlakukan harga lebih tinggi bagi wisatawan asing, misalnya di taman hiburan Junglia yang baru dibuka di Okinawa.

Wisatawan mancanegara secara rutin membayar lebih untuk mengunjungi Taj Mahal di India, Taman Nasional Serengeti di Tanzania, dan kota peninggalan Machu Picchu di Peru.

Beberapa negara menggunakan dana tersebut untuk membiayai konservasi, pengelolaan sampah, dan pemeliharaan infrastruktur. Negara lain memanfaatkan strategi ini untuk mengurangi tekanan pada lingkungan perkotaan, seperti Kota Venesia di Italia, yang sedang menguji coba biaya masuk bagi wisatawan harian untuk mengendalikan keramaian pada musim liburan puncak.

Dalam kasus Selandia Baru, masalah utamanya adalah infrastruktur yang kewalahan.

Di Tongariro Alpine Crossing, jalur pendakian melalui Kawasan Warisan Dunia di dataran tinggi vulkanik Pulau Utara bagian tengah, ribuan wisatawan sering memadati fasilitas yang dirancang hanya untuk digunakan oleh beberapa ratus orang per hari.

Kepadatan berlebihan ini memicu kekhawatiran bahwa pengalaman buruk wisatawan akan merusak citra bersih dan hijau Selandia Baru, sekaligus merugikan industri pariwisata yang merupakan penyumbang devisa terbesar kedua setelah produk susu, serta penggerak utama pertumbuhan ekonomi negara.

Pemerintah memperkirakan akan memperoleh pendapatan NZ$62 juta per tahun dari pungutan terhadap wisatawan asing, yang akan diinvestasikan kembali ke lokasi-lokasi tersebut untuk meningkatkan pengalaman pengunjung.

Awalnya, empat lokasi akan dikenakan biaya ini — Milford Sound, Tongariro Crossing, Aoraki Mount Cook, dan Cathedral Cove (yang diakui sebagai salah satu pantai terbaik di dunia) — namun pemerintah menyatakan akan mengkaji penambahan lokasi lain.

Semua destinasi tersebut berada di lahan publik yang dikelola oleh Departemen Konservasi. Milford Sound menarik 1,1 juta pengunjung per tahun, dengan 90% di antaranya berasal dari luar negeri.

Risikonya adalah tarif yang terlalu tinggi bagi wisatawan asing dapat membuat mereka enggan berkunjung.

Selandia Baru sudah mengenakan tarif lebih tinggi bagi non-residen untuk menggunakan pondok (hut) di jalur pendakian Great Walks, yang merupakan rute trekking beberapa hari melewati daerah-daerah paling indah. Sebagian besar wisatawan internasional juga dikenai pungutan NZ$100 saat tiba di negara tersebut, yang dirancang untuk membantu menutup biaya penyediaan layanan wisata.

“Penting untuk memahami total biaya yang ditanggung pengunjung, dan setiap pungutan baru harus dipertimbangkan dengan hati-hati bersama biaya yang sudah ada,” kata Greg Thomas, manajer umum Tourism Industry Aotearoa. Ia mendukung penerapan harga ganda selama dana tersebut dikembalikan ke objek wisata yang bersangkutan.

Masih ada pertanyaan yang belum terjawab, terutama tentang bagaimana Selandia Baru akan memberlakukan pungutan ini bagi pengunjung ke area alam liar.

“Diperlukan pekerjaan lanjutan untuk memutuskan pelaksanaan dan biaya yang tepat,” kata juru bicara Menteri Konservasi Tama Potaka. “Sebagai bagian dari ini, kami akan mempertimbangkan pendekatan yang digunakan di luar negeri, seperti sistem pemesanan daring, loket tiket, dan kartu akses taman.”

(bbn)

No more pages