"Vietnam mencatat angka ekspor yang mengesankan pada Juli, terutama karena perusahaan-perusahaan bergegas mengirim barang ke AS sebelum tarif Trump berlaku," kata Tran Tuan Minh, CEO TVI, perusahaan riset dan investasi saham berbasis di Hanoi.
"Kami memperkirakan ekspor akan melambat secara signifikan pada paruh kedua tahun ini, terutama karena tarif 20% dan tarif 40% untuk transshipment, yang masih belum jelas hingga saat ini."
Dalam pernyataan Rabu (6/8/2025), pemerintah mengatakan para negosiator dagang sedang berupaya untuk "secara aktif melanjutkan" perundingan dengan Washington. Pemerintah juga menegaskan kembali rencana untuk mendiversifikasi pasarnya, mengincar perjanjian dagang dengan Timur Tengah dan India, sekaligus meningkatkan konsumsi domestik barang-barang Vietnam.
Berdasarkan data bea cukai terpisah yang dirilis pada Rabu, ekspor ke AS melesat 26% pada Juli dibandingkan tahun sebelumnya menjadi US$14,2 miliar. Impor dari China meningkat 30,5% menjadi sekitar US$16,7 miliar pada Juli.
Ekspor neto ke AS menyumbang sekitar seperlima dari produk domestik bruto (PDB) Vietnam. Tarif tersebut mengancam pabrik-pabrik yang berkembang pesat karena perusahaan-perusahaan mendiversifikasi rantai pasokan mereka dari China.
Data tersebut secara umum positif, di mana harga konsumen naik 3,19% secara tahunan, lebih lambat dari estimasi ekonom sebesar 3,40% dan laju 3,57% pada Juni. Produksi industri meningkat 8,5% secara tahunan, dan 0,5% dibandingkan dengan Juni.
Ekspor komoditas juga meningkat. Ekspor kopi naik menjadi 103.000 ton, atau meroket sebesar 34,6% dibandingkan tahun sebelumnya.
Data yang dirilis bulan lalu menunjukkan ekonomi terus tumbuh pesat pada 2025, di mana PDB meningkat 7,96% pada periode April-Juni dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pemerintah menargetkan pertumbuhan 8% pada 2025, meski belum jelas apakah tarif baru AS akan menghambat target tersebut.
(bbn)
































