Secara keseluruhan, Moodaly memandang Indonesia berpotensi mengakses pasar baterai EV global, utamanya melalui produk berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC). Terlebih, biaya produksi baterai NMC di Tanah Air terbilang murah sehingga bisa berkompetisi dengan negara lain.
Kendati begitu, dia menegaskan Indonesia juga harus bersaing dengan negara-negara lainnya yang mengembangkan baterai lithium ferro phosphate (LFP).
“Memiliki nikel dan Indonesia sebagai produsen dengan biaya terendah di dunia memberikan keunggulan kompetitif yang kuat, tetapi Anda tidak hanya bersaing dengan produsen NMC di seluruh dunia. Anda juga bersaing dengan teknologi LFP,” ucap Moodaly.
Peta Pasar
Dia menjelaskan China menempati posisi pertama sebagai pasar EV terbesar di dunia sehingga menjadi pasar potensial. Kendati begitu, China mulai beralih dari baterai berbasis nikel ke baterai berbasis litium.
Sebaliknya, Indonesia dikenal sebagai negara produsen NMC sebab memiliki cadangan nikel yang melimpah,
“Jadi NMC mungkin tidak begitu menarik bagi mereka [China],” kata dia.
Amerika, sementara itu, masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan penggunaan kendaraan listrik. Namun, kawasan itu dipandang memiliki teknologi yang lebih maju sehingga diprediksi akan menjadi salah satu pasar utama baterai EV pada masa mendatang.
“Kami yakin seiring waktu, mereka juga akan kembali mengadopsi kendaraan listrik,” terang Moodaly.
Selanjutnya, Moodaly menilai Uni Eropa dapat menjadi pasar potensial bagi Indonesia untuk mengekspor baterai EV.
Dia memprediksi, jika Indonesia dapat menyelaraskan regulasi dengan persyaratan spesifikasi baterai Uni Eropa, ekspor baterai ke kawasan ini akan melonjak.
Dia tidak menampik persyaratan ‘paspor baterai Uni Eropa’ atau UE Battery Passport yang ketat bisa menghambat Indonesia mengekspor baterai EV ke kawasan itu. Dengan begitu, dia berharap pemerintah dapat menyesuaikan regulasi Tanah Air agar sesuai dengan persyaratan di Benua Biru itu.
“Jika Indonesia menyelaraskan regulasinya dengan persyaratan UE, menyelaraskan dengan paspor baterai UE, yang mencakup infrastruktur hijau, pengurangan CO2, hal itu memberikan investor peluang lebih baik untuk memproduksi secara lokal untuk diekspor ke pasar kunci ini,” ujarnya.
Selain penyelarasan regulasi, Moodaly menilai Pemerintah Indonesia perlu memiliki kebijakan yang tak berubah-ubah atau stabil dalam jangka panjang. Lalu, pengembangan kompetensi sumber daya manusia juga menjadi aspek penting untuk mengakses pasar baterai EV Uni Eropa.
Pasar Domestik
Terpisah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memproyeksikan pasar baterai di Indonesia mencapai sekitar 392 gigawatt hour (GWh) sampai 2034.
Perhitungan tersebut berasal dari potensi kebutuhan pembangkit listrik untuk industri kendaraan listrik domestik hingga pasar ekspor, sebagaimana tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025—2034.
Menurut Bahlil, ekosistem baterai mobil diperkirakan membutuhkan baterai sekitar 55 GW sampai dengan 60 GW hingga 2027.
“Nah ini kalau baterainya, untuk listriknya itu cepat. Maka, itu akan potensinya jauh lebih besar lagi,” kata Bahlil di International Battery Summit.
Adapun, Kementerian ESDM memperkirakan ekosistem kendaraan listrik dunia membutuhkan sekitar 3.5000 GWh baterai pada 2030. Potensi pasar baterai kendaraan listrik global pada 2030 diprediksi mencapai US$500 miliar.
Sejalan dengan hal itu, sejumlah proyek baterai tengah digarap di Tanah Air. Terlebih, pemerintah memang berambisi menjadikan Indonesia sebagai raja baterai, untuk menopang asa menjadi hub EV regional demi memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan ekspor.
Sejak proyek hilirisasi nikel digaungkan pada 2020, pemerintah gencar untuk mengajak investor asing menanamkan modal untuk membangun ekosistem industri baterai EV di Indonesia.
Lewat Indonesia Battery Corporation (IBC), misalnya, pemerintah mendesain proyek ekosistem baterai EV yang bertajuk Indonesia Grand Package.
Selain Proyek Titan dan Dragon yang digarap bersama IBC, Indonesia memiliki sejumlah proyek baterai EV lain yang sedang dikembangkan di dalam negeri; baik yang terintegrasi dari hulu ke hilir, maupun yang hanya berfokus di lini hilir seperti sel dan paket baterai saja.
(azr/wdh)
































