Logo Bloomberg Technoz

Untuk itu, dia pun mendorong pemberian insentif oleh pemerintah agar pabrikan mobil listrik beralih menggunakan baterai NMC dari sebelumnya menggunakan LFP, dalam rangka mendorong penggunaan baterai berbasis nikel pada EV di pasar lokal.

“Kita trennya masih percaya ini akan sama-sama berkembang karena masing-masing memiliki competitive advantage. Kita sudah studi juga dengan IFC dan World Bank ke depan outlook-nya masih sama kuat, tetapi tentu untuk market dalam negeri kita harus optimalkan NMC,” klaim dia.

Keunggulan dan Kekurangan

Lain sisi, National Battery Research Institute (NBRI) memandang baterai LFP memiliki sifat yang lebih stabil dan memiliki usia pakai yang lebih panjang. Namun, baterai jenis ini memiliki kapasitas penyimpangan yang lebih kecil dibandingkan dengan NMC.

Pendiri NBRI Evvy Kartini menjelaskan kapasitas penyimpanan energi LFP hanya sekitar setengah dari baterai NMC. Dengan demikian, ukuran baterai LFP cenderung lebih besar dibandingkan dengan baterai NMC meskipun memiliki kapasitas yang sama.

Permintaan baterai EV berbasis LFP terus naik./dok. Bloomberg

Meski begitu, Evvy memandang baterai LFP justru lebih populer digunakan oleh produsen mobil EV terutama untuk kendaraan listrik dalam kota (city car EV). Baterai NMC padahal memiliki tenaga dan kapasitas yang lebih mumpuni dari baterai LFP.

“Jadi kalau mobil itu dia mau ber-power, energi itu harus pakai basisnya NMC.  Kalau untuk di dalam kota saja mungkin tidak apa-apa [LFP]. Nah, sekarang kenapa banyak LFP yang ada [di pasaran]? Kok ini di satu pihak harus downstreaming,” kata Evvy.

Di sisi lain, dia memandang baterai NMC memiliki nilai keekonomian yang tinggi sebab komponen nikel dan kobalt dapat didaur ulang ketika baterai tersebut tidak lagi digunakan. Sebaliknya, baterai LFP, pada akhir siklusnya hanya menghasilkan besi bekas dengan nilai jual rendah.

Untuk itu, Evvy mendorong agar pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk membatasi penggunaan baterai berbasis LFP di mobil listrik RI. Menurutnya, baterai NMC memiliki nilai keekonomian yang lebih tinggi sehingga lebih optimal digunakan di Tanah Air.

“Kalau saya berharap nanti kita tanya kebijakannya apa. Kebijakannya menurut saya supaya in line, nanti tetap harus dibatasi mobil yang berbasis LFP,” pungkasnya.

Siapkan Insentif

Pada perkembangan lain, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memang tengah mendorong pabrikan mobil listrik untuk mengadopsi teknologi baterai berbasis nikel atau NMC.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan dorongan itu bakal mengambil bentuk regulasi spesifik ihwal penggunaan baterai NMC serta insentif tambahan untuk menarik minat investasi pada baterai berbasis nikel tersebut.

“Sambil pelan-pelan kita juga mendorong regulasi untuk yang pabrik-pabrik EV Indonesia sekarang yang produsen mobilnya supaya beralih dari lithium ke nickel based,” kata Kartika kepada awak media, di sela International Battery Summit 2025.

Kartika beralasan sebagian besar pabrikan EV saat ini masih menggunakan baterai berbasis LFP. Dia berharap intervensi pemerintah dari sisi regulasi dan insentif itu belakangan dapat menarik investasi lebih banyak pada penggunaan baterai NMC di Indonesia.

“Kita ingin dukungan dari kementerian-kementerian lain agar ada insentif buat beralih ke nickel based baterai juga di Indonesia,” tuturnya.

Biaya produksi LFP lebih murah dari bateri lithium-ion./dok. Bloomberg

Di tingkat global, investasi baterai LFP diestimasikan makin marak di Amerika Utara dan Eropa, di tengah upaya untuk membuat harga kendaraan listrik kian terjangkau.

Menurut laporan BMI, lengan riset Fitch Solutions bagian dari Fitch Group, di Amerika Serikat (AS) sudah ada lebih dari tiga proyek pabrik baterai LFP yang sedang dalam tahap perencanaan atau konstruksi.

“Salah satu proyek terbesarnya adalah BlueOval Park 20 GWh milik Ford di Michigan, yang akan beroperasi mulai 2026,” papar tim periset BMI, belum lama ini,

Tak mau kalah, di Eropa, produsen baterai China CATL dan Stellantis telah membentuk usaha patungan yang bertujuan membangun pabrik baterai LFP senilai EUR4,1 miliar di Spanyol.

Hal ini merupakan tambahan dari dua pabrik baterai CATL yang telah beroperasi di Jerman dan Hungaria.

Peningkatan adopsi baterai LFP oleh produsen non-China akan didukung oleh penurunan biaya litium, menurut BMI.

“Tim Komoditas kami memperkirakan litium akan terus mengalami kelebihan pasokan antara 2025 dan 2031, yang akan membuat harga litium jauh di bawah puncaknya pada2022 dalam jangka menengah,” kata lembaga tersebut.

Untuk itu, tekanan biaya akan berkurang bagi pendatang baru di sektor manufaktur baterai LFP.

Proyeksi oversupply litium pada 2025./dok. Bloomberg

Hal tersebut sekaligus menandakan perkembangan penting bagi adopsi massal EV karena insentif pajak dan subsidi bagi pembeli kendaraan listrik sedang menghadapi risiko yang makin besar untuk dikurangi atau dihilangkan selama lima tahun mendatang.

Di Indonesia sendiri, investasi di proyek LFP sudah mulai direalisasikan sejak tahun lalu seiring dengan dimulainya tahap pertama produksi dan rencana ekspansi pabrik bahan katoda LFP oleh PT LBM Energi Baru Indonesia pada 8 Oktober 2024.

Adapun, proyek ini terwujud melalui rencana kemitraan investasi antara konsorsium Indonesia Investment Authority (INA) dan Changzhou Liyuan New Energy Technology Co Ltd (Changzhou Liyuan), salah satu produsen dan pemasok LFP terbesar di dunia.

Fasilitas yang terletak di Kendal Industrial Park (KIP) ini—salah satu kompleks industri terbesar di Indonesia dengan status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) — diproyeksikan untuk menjadi produsen katoda LFP terbesar di dunia, di luar China.

Investasi bersama yang direncanakan sebesar US$200 juta tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi dari 30.000 ton pada fase I, yakni yang saat ini sedang dalam pelaksanaan produksi percontohan, menjadi 90.000 ton pada fase II, yang diharapkan akan dimulai pada 2025.

Kemitraan strategis dengan China ini berfokus pada bahan katoda LFP yang mewakili nilai tambah tertinggi dalam rantai nilai baterai. Pada 2030, Indonesia diperkirakan melayani pasar senilai sekitar US$10 miliar dalam bahan aktif katoda LFP.

(azr/wdh)

No more pages