Logo Bloomberg Technoz

Melalui metode ini, pekerjaan FEED serta engineering, procurement, and construction (EPC) akan diberikan kepada konsorsium yang sama, di mana pelaksanaan EPC akan diberikan kepada konsorsium yang menyampaikan penawaran EPC yang terbaik dari sisi teknis dan komersial setelah menyelesaikan jasa FEED.

“Metode dual FEED ini juga akan diterapkan untuk paket kontrak OLNG, di mana pemilihan kontraktor dan finalisasi kontrak akan dilakukan sesuai jadwal yang telah ditetapkan,” papar perusahaan.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto sebelumnya menargetkan FEED Blok Masela bisa tuntas sebelum akhir tahun ini.

“Bapak Menteri [ESDM Bahlil Lahadalia] minta FEED ini bisa selesai pada akhir tahun ini, sehingga 2026 sudah mulai tender-tender pengadaan barang dan jasanya,” kata Djoksis di sela konferensi pers Kinerja Hulu Migas Tengah Tahun 2025, Senin (21/7/2025).

SKK Migas menargetkan pemenang FEED bisa diteken pada Agustus 2025. “FEED OLNG Inpex sebentar lagi akan ditandatangani,” tuturnya.

Di sisi lain, Djoksis menargetkan keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) Lapangan Abadi bisa diteken tahun depan.

“Diharapkan onstream paling telat 2030, kalau bisa dipercepat ini bisa menambah kondensat 35.000 barel per hari puncaknya,” tuturnya.

Proyek Abadi Masela ditaksir sanggup memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, setara dengan lebih dari 10% impor LNG tahunan Jepang. Selain itu, proyek ini juga diestimasikan mengakomodasi gas pipa 150 MMSCFD, serta 35.000 barel kondensat per hari (BCPD).

Saat ini, pemegang hak partisipasi di Blok Masela adalah Inpex Masela Ltd. dengan porsi 65%. Tadinya, sisa 35% hak partisipasi di blok tersebut dikendalikan oleh Shell Upstream Overseas Services Ltd.

Per Juli 2023, sebanyak 35% hak Partisipasi Shell dilego ke PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Masela dan Petrolian Nasional (Petronas) Masela Berhad dengan pembagian porsi masing-masing sebesar 20% dan 15%.

(wdh)

No more pages