Logo Bloomberg Technoz

Dolar Singapura sedikit menguat usai pengumuman MAS, naik 0,1% menjadi 1,286 per dolar AS. Sejak awal tahun, mata uang ini telah menguat sekitar 6%, menjadikannya salah satu mata uang Asia dengan kinerja terbaik.

“Kenaikan USD/SGD dari posisi terendah Juli membantu membersihkan sebagian posisi pasar yang terbentuk setelah gejolak Hari Pembebasan April lalu. Tren menuju 1,27 kemungkinan akan kembali dalam waktu dekat,” kata Mark Cranfield dari Markets Live.

Hingga saat ini, Singapura baru terdampak tarif sebesar 10%, level terendah dari berbagai gelombang tarif yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump. Namun, Trump baru-baru ini menyatakan tidak akan memberlakukan tarif di bawah 15% mulai 1 Agustus. Pejabat Singapura yang bertemu dengan mitra AS di New York dan Washington awal bulan ini, menyampaikan kekhawatiran khusus atas potensi tarif baru terhadap sektor farmasi dan semikonduktor.

Sebagai negara dengan perdagangan yang setara tiga kali lipat dari produk domestik brutonya (PDB), Singapura juga sangat rentan terhadap perlambatan perdagangan global yang berkepanjangan.

“Prospek ekonomi Singapura tetap berada dalam ketidakpastian yang signifikan, terutama menjelang 2026,” demikian pernyataan MAS. “Perubahan tarif global dapat memengaruhi kinerja sektor-sektor berorientasi ekspor Singapura.”

Pemerintah sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Singapura berada pada kisaran 0%-2% tahun ini.

Sebagai instrumen kebijakan, MAS membiarkan mata uang bergerak dalam pita tertentu, dan menyesuaikan kemiringan, titik tengah, atau lebarnya sesuai kebutuhan. Namun, bank sentral tidak mengungkapkan rincian keranjang mata uang, batas pita, maupun laju pergerakannya—hanya apakah terdapat perubahan atau tidak.

Terkait inflasi, MAS menyebutkan bahwa tekanan harga diperkirakan akan tetap terkendali dalam jangka pendek, meskipun risiko dari tarif AS masih ada. MAS juga menyatakan bahwa kebijakan saat ini berada pada posisi yang sesuai untuk merespons risiko terhadap stabilitas harga dalam jangka menengah.

Hal ini, bersama dengan referensi terhadap dua pelonggaran sebelumnya, menunjukkan bahwa sikap kebijakan saat ini adalah “amunisi siap, mata tetap waspada,” menurut Vishnu Varathan, Kepala Riset Makro untuk Asia ex-Jepang di Mizuho Bank Ltd.

“Untuk Oktober, MAS mungkin tetap condong dovish,” kata Varathan. “Namun itu hanya pada kerangka kebijakan yang secara fundamental netral. Jadi belum tentu MAS akan kembali melonggarkan kebijakan.”

Singapura, yang mengimpor sebagian besar kebutuhan pokoknya, telah mencatatkan inflasi inti yang menurun dalam beberapa bulan terakhir. Inflasi inti per Juni tercatat 0,6% secara tahunan, dan tetap berada di bawah 1% sejak awal tahun.

MAS juga menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan melambat pada paruh kedua tahun ini setelah mencatat kinerja kuat pada semester pertama, sebagian berkat strategi penumpukan perdagangan sebelum tarif AS berlaku.

“Sektor-sektor terkait perdagangan kemungkinan akan mengalami penyesuaian, meskipun aktivitas di sektor konstruksi serta beberapa segmen jasa keuangan masih akan ditopang oleh investasi infrastruktur dan kondisi keuangan yang lebih longgar,” tulis MAS.

(bbn)

No more pages