"Karena terdampak dengan online tadi. Penurunan (sektor) baju masih 10% sampai 15%. Belum balik dari covid-19. Depstore juga banyak yang keok juga bahasanya. Karena ya itu online shifting," pungkasnya.
Berdasarkan data Colliers Indonesia, Food and Beverages (F&B) menjadi sektor yang memiliki peran penting untuk menaikkan tingkat keterisian di pusat perbelanjaan yang ada di Indonesia di sepanjang semester I-2025.
"F&B masih menjadi driver peningkatan hunian mall dan beberapa masih antusias membuka cabang baru. Kombinasi F&B dan lifestyle tenant juga bisa membantu kenaikan tingkat okupansi," kata Senior Associate Director Colliers Indonesia Ferry Salanto.
Saat ini, sektor makanan dan minuman menyangga sekitar 41,2% dari okupansi pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta pada Semester I-2025. Sementara itu, sektor fashion dan apparel menyumbang sekitar 22,1% dari tingkat keterisian mal.
Selanjutnya, sektor beauty and wellness menyumbang 12,2% dari tingkat keterisian mal. Sebanyak 7,4% diiisi oleh tenant-tenant lifestyle, 6,7% disumbang dari home and furniture. Sisanya disumbang oleh watch and jewelry serta lainnya masing masing sebesar 5,1% dan 5,3%.
Sebelumnya, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) membeberkan omzet pengusaha pusat perbelanjaan atau mal bakal merosot dibandingkan tahun lalu imbas maraknya fenomena Rojali seiring melemahnya daya beli masyarakat.
“Pasti [mengurangi omzet],” kata Ketua Umum APPBI, Alphonzus saat ditemui di Pusat Grosir Cililitan (PGC) Jakarta, Rabu (23/7/2025).
Dia menyebut pertumbuhan industri pusat belanja tahun ini kurang dari 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara APPBI menargetkan sebanyak 20%-30% di tahun ini.
“Kenaikan trafik hanya 10%. Sebetulnya target kita kan 20%-30% kenaikannya dibandingkan dengan tahun lalu,” ujarnya.
Alphonzus menjelaskan sejatinya fenomena Rojali bukan bukan hal yang baru karena sebelumnya sudah pernah terjadi. Hanya saja intensitas jumlahnya semakin meningkat dari waktu ke waktu. Alphonzus Widjaja
(ain)






























