“Kami menjalin hubungan sangat baik dengan China,” ujar Trump kepada wartawan pada Selasa. “Hubungan kami sangat positif.”
Rangkaian kesepakatan ini memberi tingkat prediktabilitas yang selama enam bulan terakhir sempat menghilang, menyusul ancaman tarif yang pernah mencapai 145% terhadap China dan hampir 50% terhadap beberapa negara eksportir Asia lainnya. Pasar menyambut positif kabar ini—saham Asia mencatat kenaikan harian tertinggi dalam sebulan, kontrak S&P 500 naik 0,2%, sementara indeks Nikkei-225 Jepang melompat 3,2% dengan saham Toyota dan produsen mobil lain memimpin penguatan.
Pada April lalu, Trump sempat menunda pengenaan tarif tertinggi setelah kombinasi langka berupa penurunan saham, obligasi, dan nilai tukar dolar AS memicu kekhawatiran investor atas sikap proteksionisnya. Penundaan itu memberi waktu bagi para pengambil kebijakan di Tokyo, Manila, dan negara lain untuk menegosiasikan kesepakatan yang lebih dapat diterima.
Meski kesepakatan terbaru membawa sedikit kelegaan, sejumlah pertanyaan penting masih menggantung. Pemerintahan Trump masih mempertimbangkan tarif sektoral untuk produk-produk seperti semikonduktor dan farmasi, sektor penting bagi perekonomian Asia, termasuk Taiwan dan India—dua negara yang hingga kini belum mencapai kesepakatan tarif dengan AS. Korea Selatan (Korsel) juga berpotensi terdampak tarif sektoral, meski kesepakatan dengan Jepang bisa menjadi cetak biru bagi Presiden baru, Lee Jae Myung.
Trump juga menyatakan bahwa ia mungkin akan mengenakan tarif antara 10% hingga 15% terhadap sekitar 150 negara lain yang memiliki kontribusi kecil dalam defisit perdagangan AS.
Dengan munculnya kepastian soal besaran tarif, perusahaan-perusahaan yang memiliki rantai pasok kompleks di Asia dan masih bergantung pada konsumen AS kini bisa mulai merancang strategi untuk meminimalkan dampak terhadap penjualan. Bagi konsumen AS yang sejauh ini belum terlalu merasakan dampaknya, para ekonom memperkirakan bahwa tekanan harga akan mulai terasa dalam beberapa bulan ke depan.
Tren percepatan pengiriman barang dari Asia ke AS yang terjadi untuk menghindari kenaikan tarif diperkirakan akan melambat ketika tarif baru mulai berlaku. Meski tarif untuk Jepang dan negara Asia Tenggara lebih rendah dari ancaman sebelumnya, kenyataannya tarif tersebut tetap jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum Trump menjabat.
“Kesepakatan terbaru ini memperkuat tren tarif yang bergerak menuju kisaran 15%–20%, yang disebut Presiden Trump sebagai level preferensinya untuk tarif menyeluruh, menggantikan angka 10% yang berlaku saat ini,” tulis analis Barclays Plc, termasuk Brian Tan, dalam sebuah catatan. Mereka menambahkan bahwa tren ini berisiko menekan proyeksi pertumbuhan PDB negara-negara Asia.
Gubernur bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengatakan bahwa ia ingin melihat dampak nyata tarif terhadap perekonomian sebelum mengambil langkah pemangkasan suku bunga—sikap yang sempat membuat Trump frustrasi.
Untuk saat ini, Trump menyatakan kemenangan dalam urusan perdagangan, dan pasar keuangan tampaknya menyambutnya dengan rasa lega.
“Saya baru saja menandatangani kesepakatan dagang terbesar dalam sejarah—atau mungkin kesepakatan terbesar sepanjang masa—dengan Jepang,” kata Trump dalam sebuah acara di Gedung Putih usai mengumumkan kesepakatan itu di media sosial. “Ini adalah kesepakatan luar biasa bagi semua pihak.”
(bbn)

























