"Jangan lagi mengirim bahan mentah, nilai tambahnya di luar, kita cuma main ekspor material bahan baku. Kalau seperti itu apa bedanya kita dengan zaman VOC. VOC itu 390 tahun mengirim bahan baku yang membuat negara-negara lain candu terhadap sumber daya kita," tegasnya.
Selain memacu hilirisasi sektor minerba ke arah industri baterai, Bahlil menyebut fokusnya saat ini adalah terus mendorong reaktivasi sumur migas menganggur, pembangunan infrastruktur gas, serta percepatan transisi energi melalui pengembangan EBT dan inovasi teknologi.
Hingga kuartal I-2025, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat investasi sektor hilirisasi telah mencapai Rp136,3 triliun dan menyumbang 29,3% dari total realisasi investasi senilai Rp465,2 triliun pada periode tersebut.
Sektor dengan realisasi investasi bidang hilirisasi yang terbesar adalah mineral dengan total Rp97,6 triliun pada kuartal I-2025.
Perinciannya, nikel Rp47,82 triliun; tembaga Rp17,7 triliun; bauksit Rp12,84 triliun; besi baja Rp12,01 triliun; timah Rp1,53 triliun dan lainnya Rp5,7 triliun. Adapun, komoditas lainnya meliputi pasir silika, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara dan aspal buton.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menargetkan total nilai investasi hilirisasi dalam periode 5 tahun ke depan mencapai Rp13.000 triliun.
"Kalau boleh saya sharing sedikit, itu mencapai lebih dari Rp13.000 triliun dalam 5 tahun ke depan. Tahun ini kita canangkan untuk mencapai target investasi kurang lebih Rp1.900 triliun," ujarnya di Kantor pusat BKPM, akhir Juni.
(wdh)






























