Logo Bloomberg Technoz

“Sudah pasti nanti juga tergantung ke perhitungan bisnisnya seperti apa. Jadi tidak bisa serta merta dipaksa beli. Tidak begitu. Tetap subjeknya ke pertimbangan bisnis, perhitungannya seperti apa,” tegas Susiwijono. 

Jenis Komoditas

Terkait dengan komoditas yang dikerjasamakan dalam nota kesepahaman itu, Susiwijono mengelaborasi jenisnya beragam mulai dari impor untuk minyak mentah atau crude dan gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG), hingga produk kilang atau refinery berupa bahan bakar minyak (BBM) jenis gasoline atau bensin. 

MoU tersebut nantinya juga akan didetailkan lebih lanjut, lantaran pemerintah masih akan membahasnya dengan United States Trade Representative (USTR).

“Di joint statement-nya nanti akan dibunyikan di situ. Kita akan sepakat, kemudian nanti detailnya, skemanya seperti apa akan kita detailkan lagi. Kita masih akan terus [berdiskusi] dan itu bukan kita dipaksa. Kita juga akan diuntungkan dengan itu guna menjaga ketahanan energi kita,” ujarnya.

Bahkan, lanjutnya, nantinya terdapat rencana investasi dari AS untuk membangun “satu fasilitas” di sektor energi, yang belum diperincikan dalam format apa. Fasilitas itu akan didirikan di kawasan ekonomi khusus (KEK), yang juga belum didetailkan lokasinya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus Wakil Komisaris Utama Pertamina Todotua Pasaribu mengatakan perusahaan migas milik negara itu kini sedang mengkaji dan menyesuaikan dampak strategis dari keputusan tersebut. 

Menurutnya, kesepakatan impor energi antara Pertamina dan korporasi migas AS—baik terkait dengan jenis dan volume komoditas yang akan diimpor maupun rencana investasi Pertamina di Negeri Paman Sam — masih dalam tahap pembicaraan.

“Masih pembicaraan mengenai itu,” ujar Todotua saat ditemui dalam agenda Pertamina Investor Day 2025, Rabu (16/7/2025).

“Belum ada [investasi baru ke AS]. Akan tetapi, kalau beberapa yang sudah berjalan seperti [dengan] Pertamina, itu kan dulu sudah ada investasi lapangan sumur di sana,” lanjutnya. 

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri sebelumnya juga mengonfirmasi akan tetap melanjutkan pembahasan potensi kerja sama pembelian minyak mentah dari AS.

Simon mengatakan Pertamina baru saja melaksanakan penandatanganan tiga nota kesepahaman tidak mengikat atau non-binding memorandum of understanding (MoU) untuk menjalin hubungan baik dengan AS terkait dengan komitmen pembelian minyak mentah.

“Jadi kerja sama itu sudah ada. Jadi tentunya kita akan lanjutkan dengan pembicaraan lanjutan. Dan kita berharap supaya tetap kerja sama itu berjalan,” kata Simon kepada Bloomberg Technoz, ditemui di sela kegiatan Peluncuran Kelembagaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Selasa (15/7/2025).

Ketika ditanya mengenai volume pembelian minyak dalam kerja sama tidak terikat tersebut, Simon mengaku belum membahasnya lebih detil.

“[Volume] masih belum, masih secara umum saja. Akan tetapi, berarti semangat yang mendasari adalah untuk tetap menjalin kerja sama yang baik,” ucapnya.

Keputusan volume ataupun nilai kerja sama tersebut nantinya akan diambil sejalan dengan rencana pemerintah, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

(wdh)

No more pages