Hal yang mungkin memberatkan posisi Indonesia adalah karena sikap untuk lepas dari sistem keuangan AS—dengan bergabung bersama BRICS — yang harus diantisipasi dengan baik dan sesuai hukum internasional.
Risiko Kompleks
Risiko berdagang dengan Rusia, kata Hadi, memang cukup kompleks. Secara politis, Rusia di kancah dunia sedang mendapat sorotan embargo ekonomi sehingga perlu diplomasi dengan menjelaskan ke semua pihak bahwa RI akan tetap netral.
“Hanya karena kebutuhan dan situasi sulit imbas perang tarif dari AS, 'mohon izin untuk berdagang dengan Rusia',” ujarnya.
Persoalan spesifikasi minyak Rusia, menurutnya, tidak akan terlalu beda dengan sifat dan karakter minyak pada umumnya. PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), lagipula, memiliki teknologi blending untuk meramu minyak dari mana saja agar bisa diolah di kilangnya.
“Hanya saja perlu fleksibilitas source, di mana source tersebut disebar di berbagai tempat antara lain dari Singapura dan Timur Tengah," terang Hadi.
Dia juga mengatakan opsi impor migas dari Rusia dilakukan ketika RI memang tidak memiliki pilihan lain. Dia menyarankan ketika negosiasi tarif lanjutan dengan AS gagal, pemerintah dapat berhitung ulang mengenai biaya komponen dan keuntungan dari kedua sisi yakni Indonesia dan sisi konsumen di Negeri Paman Sam.
Jika tarif resiprokal 32% akan dibebankan terhadap barang-barang Indonesia yang masuk ke AS dan menghasilkan harga yang masih kompetitif, lanjutnya, pemerintah tetap bisa mengimpor migas meskipun dikenakan tarif tinggi.
Akan tetapi, lanjut Hadi, jika keadaan sebaliknya atau menghasilkan harga akhir dan konsumen AS merasa tidak kompetitif, maka pemerintah harus mencari alternatif pasar lain. “Negosiasi tarif berarti gagal,” ungkapnya.
Dalam perkembangan terbaru, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto masih berupaya agar Indonesia mendapatkan tarif yang rendah dibandingkan dengan negara anggota Association of Southeast Asian Nations (Asean) lainnya.
Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan selama ini tarif untuk Indonesia sebesar 32% masih tergolong tinggi di kawasan Asean.
"Jadi kita minta yang kira-kira sama atau bisa lebih rendah daripada yang di Asean. Kita ingin di kawasan Asean ini, khususnya mungkin Asia, bahwa kita bisa mendapatkan tarif yang rendah atau lebih rendah," ujarnya Haryo dalam media briefing di kantornya, Rabu (9/7/2025).
Tarif untuk produk asal Indonesia pada level 32% lebih tinggi dibandingkan dengan Filipina sebesar 17%, Vietnam sebesar 20%, dan Malaysia sebesar 25%. Namun, tarif Indonesia masih lebih rendah dari Thailand sebesar 36%, Kamboja sebesar 36%, Myanmar dan Laos sebesar 40%.
Di sisi lain, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung memastikan pemerintah masih melanjutkan proposal impor migas dari AS, meski Indonesia tetap diganjar tarif resiprokal sebesar 32% per 1 Agustus.
Yuliot mengatakan kementeriannya masih akan menunggu negosiasi lanjutan yang akan dilakukan oleh Airlangga di Washington D.C. pekan ini.
“Ini kan Pak Menko Perekonomian [Airlangga] kan masih mengupayakan. Jadi kan kita sudah over kan untuk trade balance, itu dari sisi energi kan sekitar US$15 miliar. Jadi ya kita lihat saja itu bagaimana keputusan akhirnya,” kata Yuliot ditemui di sela kegiatan diskusi migas, Selasa (8/7/2025).
“Jadi ya kita tunggu dulu Pak Airlangga [selesai negosiasi dengan AS].”
Sekadar catatan, Indonesia memasukkan proposal impor barang senilai US$34 miliar dalam negosiasi tarif AS. Sebanyak US$15,5 miliar di antaranya ditujukan untuk komoditas energi. Nilai tersebut jauh melebihi estimasi Kementerian ESDM sebelumnya di kisaran US$10 miliar.
Jika dibandingkan dengan total nilai impor migas RI dari AS senilai US$2,49 miliar pada 2024, angka tersebut juga terpaut sangat jauh.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor migas Indonesia sepanjang 2024 mencapai US$36,27 miliar. Postur impor itu berasal dari pembelian minyak mentah sekitar US$10 miliar dan hasil migas sebesar US$25,92 miliar.
Adapun, impor LPG Indonesia sepanjang 2024 mencapai 6,89 juta ton dengan nilai mencapai US$3,78 miliar. Porsi impor LPG dari Amerika Serikat mencapai 3,94 juta ton, dengan nilai impor US$2,03 miliar.
Selain AS, Indonesia mengimpor LPG dari Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Arab Saudi hingga Algeria.
Di sisi lain, kuota impor minyak mentah Indonesia dari AS terbilang kecil dibandingkan dengan realisasi impor sepanjang 2024. Indonesia mengimpor minyak mentah dari AS sekitar US$430,9 juta pada periode tersebut.
Sebagian besar impor minyak mentah Indonesia berasal dari Arab Saudi, Angola, Nigeria hingga Australia. Sementara itu, impor BBM kebanyakan berasal dari kilang di Singapura.
(wdh)






























