Lobi Tarif Gagal, Ekonom Wanti-Wanti RI Jangan Terlalu Dermawan
Dovana Hasiana
08 July 2025 11:35

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom menilai Indonesia tidak perlu bertindak terlalu dermawan dalam melanjutkan negosiasi dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, di tengah keputusan AS yang mengenakan tarif resiprokal sebesar 32%, tak berubah dari kebijakan awal.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi Syafruddin mengatakan Trump menampilkan AS sebagai korban perdagangan tidak adil (unfair). Namun, hal yang diinginkan Trump adalah perdagangan yang tunduk (submissive trade), di mana setiap negara berserah diri pada kemauan kebijakan Trump secara sepihak.
"Tidak akan ada kesepakatan yang adil dengan Trump. Kita jangan terlalu dermawan buat Trump, sementara tetap saja dalam kondisi tidak pasti," ujar Syafruddin dalam keterangannya, Selasa (8/7/2025).
Syafruddin memberikan gambaran soal kesepakatan dengan Vietnam yang dipersepsikan adil, di mana AS mengenakan tarif 20%, sementara Vietnam harus menerapkan bebas tarif bea masuk.
"Negara-negara dunia, khususnya negara selatan [global south], jangan pernah terlanjur berharap positif dari AS selama masih dipimpin oleh Trump yang lebih banyak membuat kegaduhan, ketidakpastian, dan ketidakstabilan," ujarnya.





























