Selain aksi profit taking, koreksi harga CPO akhir pekan lalu juga disebabkan oleh perkembangan harga minyak nabati lainnya. Harga minyak kedelai di bursa Dalian (China) terpangkas 0,95%. Sementara di Chicago Board of Trade (Amerika Serikat/AS), harga terpeleset 0,96%.
Saat harga minyak kedelai turun, maka keuntungan untuk beralih ke CPO menjadi berkurang. Sebab kedua komoditas ini bisa saling menggantikan.
Analisis Teknikal
Jadi bagaimana perkiraan harga CPO untuk pekan ini? Apakah akan ada kenaikan 8 minggu beruntun?
Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), CPO sejatinya menghuni zona bearish. Tercermin dengan Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 46.
RSI di bawah 50 mengindikasikan suatu aset sedang dalam posisi bearish. Namun RSI CPO tidak terlalu jauh dari 50 sehingga bisa dikatakan cenderung netral.
Akan tetapi, indikator Stochastic RSI sudah menyentuh 94. Jauh di atas 80 yang berarti sangat jenuh beli (overbought).
Oleh karena itu, ada risiko harga CPO bisa turun. Target support terdekat ada di MYR 4.010/ton yang merupakan Moving Average (MA) 5. Jika tertembus, maka MA-10 di MYR 3.926/ton bisa menjadi target selanjutnya.
Sedangkan target resisten terdekat adalah MYR 4.102/ton. Penembusan di titik ini berpotensi mengangkat harga CPO menuju MYR 4.110-4.123/ton.
(aji)






























