Logo Bloomberg Technoz

Hari ini, pasar mendapati perkembangan terbaru tentang kebijakan tarif Amerika, jelang kedatangan tenggat pemberlakuan pada 9 Juli nanti.

Indonesia yang belum mencapai kesepakatan dengan AS, mengatakan optimistis bisa meraih deal melalui pengajuan tarif mendekati nol terhadap lebih dari 1.700 komoditas, atau hampir 70% dari total impor AS.

Komoditas ini mencakup sektor-sektor utama yang diminta oleh AS, seperti elektronik, mesin, bahan kimia, layanan kesehatan, baja, pertanian, dan otomotif.

Kesepakatan besar ini dapat menjadi sinyal positif ketika Indonesia sedang berupaya untuk menurunkan ancaman tarif 32% ke level yang lebih rendah dari tarif 20% yang disepakati Vietnam awal pekan ini. AS sendiri merupakan pasar ekspor terbesar kedua bagi Indonesia, setelah China.

Meski demikian, Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah masih dalam mode "wait and see" (menunggu dan melihat) untuk keputusan akhir dari Washington sebelum tarif yang lebih tinggi diberlakukan pada 9 Juli mendatang.

Sementara Presiden Donald Trump dalam pernyataan terbaru mengungkapkan, pemerintahannya akan menyurati negara-negara mitra dagang pada Jumat ini untuk menetapkan tarif impor secara sepihak.

Negara-negara tersebut, kata Trump, wajib membayar tarif tersebut per 1 Agustus. Trump mengatakan kepada wartawan bahwa sekitar "10 atau 12" surat akan dikirim pada Jumat dan sisanya akan menyusul "dalam beberapa hari ke depan."

"Saya kira pada 9 [Juli] nanti semuanya sudah tercakup," ujarnya, merujuk pada tenggat waktu 9 Juli yang sebelumnya ia tetapkan terhadap negara-negara untuk mencapai kesepakatan dengan AS guna menghindari tarif yang lebih tinggi. "Rentang nilainya mungkin dari 60 atau 70% tarif hingga 10 dan 20%," tambahnya.

Jika diberlakukan, tarif tertinggi tersebut bakal melampaui batas tarif dengan rentang 10% hingga 50% yang sempat diumumkan Trump saat meluncuran kebijakan "Liberation Day" pada awal April.

(rui)

No more pages