Logo Bloomberg Technoz

Fasilitas LNG yang berlokasi di Kitimat, pesisir barat Kanada, memiliki keuntungan geografis karena jaraknya relatif dekat ke pasar utama di Asia Timur.

Proyek ini juga lebih cepat beroperasi dibanding proyek serupa di AS dan Qatar, yang baru akan menambah pasokan signifikan paling cepat tahun depan.

“Kami melihat lokasi ini sangat strategis di pesisir Pasifik,” ujar Presiden Shell untuk divisi gas terintegrasi, Cederic Cremers, dalam wawancara.

Menurut dia, proyek ini “menghubungkan gas hulu yang sangat kompetitif dari British Columbia dengan permintaan yang tumbuh pesat di Asia.”

Unit produksi kedua—dikenal sebagai train—akan mulai beroperasi akhir tahun ini. Fasilitas dengan kapasitas penuh 14 juta ton per tahun ditargetkan mencapai produksi maksimal pada 2026.

Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, begitu kedua unit produksi aktif, Kanada akan menempati peringkat kedelapan sebagai eksportir LNG terbesar dunia, di bawah Nigeria.

Shell bersama para mitra—Petroliam Nasional Bhd. (Petronas), PetroChina Co., Mitsubishi Corp., dan Korea Gas Corp.—juga tengah mendiskusikan potensi ekspansi lanjutan. Keputusan investasi final kemungkinan akan diambil tahun depan, tambah Cremers.

Shell memproyeksikan permintaan global terhadap LNG akan tumbuh 60% hingga 2040, dipimpin oleh Asia. Perusahaan ini memiliki portofolio investasi di berbagai proyek LNG global, termasuk di Qatar dan Australia.

Selain itu, Shell mengoperasikan jaringan perdagangan besar serta armada kapal LNG yang mencakup sekitar 10% dari total armada global.

Penjualan LNG Shell tercatat mencapai 66 juta ton pada tahun lalu dan diperkirakan naik 4% hingga 5% per tahun hingga akhir dekade.

Selama periode tersebut, Shell menargetkan tambahan kapasitas produksi sebesar 12 juta ton LNG per tahun.

(bbn)

No more pages