Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, Airlangga mengatakan tim dari Indonesia sudah siap dan menunggu (standby) di Washington, D.C, AS. Hal ini dilakukan agar Delegasi Indonesia bisa langsung memberikan klarifikasi atau tanggapan bila terdapat perubahan kebijakan dari AS.

Sebelumnya, Airlangga memang mengonfirmasi telah melakukan pertemuan secara daring atau online dengan US Secretary of Treasury Scott Bessent pada Rabu (25/6/2025). Hal ini menjadi bagian dari upaya negosiasi tarif perdagangan.

Dalam pertemuan tersebut, Airlangga meminta tanggapan dari Bessent atas tawaran yang disampaikan Tanah Air kepada Gedung Putih, termasuk hal-hal lain yang masih diharapkan oleh AS.

Namun, Airlangga memastikan AS tidak meminta tawaran baru. Dalam hal ini, Bessent memandang bahan negosiasi yang disampaikan Indonesia sudah cukup untuk merepresentasikan keinginan AS.

"Apa yang ditawarkan oleh Indonesia dijelaskan dan tentunya Indonesia ingin mendapatkan feedback. Apa saja yang sekiranya masih diharapkan oleh AS, dari pembicaraan kemarin cukup positif," ujar Airlangga saat ditemui di kantornya, Kamis (26/5/2025).

Dalam tahapan pertama, Delegasi Indonesia yang terdiri Airlangga hingga Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memang sudah terbang ke AS untuk menemui berbagai pemangku kepentingan.

Pada 18 April 2025, Airlangga mengatakan delegasi Indonesia telah melakukan berbagai pertemuan dengan sejumlah otoritas utama pemerintah AS Amerika Serikat, termasuk USTR dan Secretary of Commerce untuk membahas penyesuaian tarif perdagangan yang berdampak pada produk ekspor Indonesia.

Pada 23 April 2025, Airlangga bertemu dengan Presiden dan CEO dari United States-ASEAN Business Council (US-ABC) Ted Osius, bersamaan dengan acara Round Table Discussion US-ABC.

Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Indonesia menyampaikan upaya dan kebijakan yang sedang disiapkan untuk mendukung iklim investasi dan perdagangan yang lebih terbuka dan kompetitif, termasuk relaksasi kebijakan TKDN khususnya di sektor Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) dan sektor kesehatan, fasilitasi perdagangan melalui penyederhanaan prosedur impor, bea cukai, serta penguatan kebijakan neraca komoditas agar lebih adaptif terhadap kebutuhan industri dan perdagangan internasional.

Pada 25 April 2025, Airlangga dan Sri Mulyani bertemu dengan Bessent. Dalam pertemuan tersebut, Airlangga menyampaikan posisi Indonesia posisi Indonesia dalam mengatasi defisit neraca perdagangan AS terhadap Indonesia.

"Kami mendukung perdagangan yang fair and square. Indonesia akan meningkatkan pembelian pada berbagai komoditas utama seperti Minyak dan Gas, serta Produk-produk Pertanian,” kata Airlangga dalam siaran pers.

Airlangga mengatakan Indonesia telah menyampaikan sejumlah tawaran kepada AS antara lain dengan meningkatkan pembelian energi, produk Pertanian, dan Engineering, Procurement, Construction (EPC), memberikan insentif dan fasilitas bagi perusahaan Amerika Serikat dan Indonesia, membuka dan mengoptimalkan kerja sama mineral kritis (critical mineral), memperlancar prosedur dan proses impor untuk produk Amerika Serikat, dan  mendorong investasi strategis dengan skema business to business.

Indonesia juga menyampaikan pentingnya memperkuat kerja sama pendidikan, sains, ekonomi digital, dan layanan finansial, penetapan tarif yang lebih rendah dari negara kompetitor untuk produk ekspor utama yang tidak akan bersaing dengan industri dalam negeri di Amerika Serikat seperti Garmen, Alas Kaki, Tekstil, Furnitur, dan Udang, serta juga menyampaikan pentingnya memastikan ketahanan rantai pasok dari produk strategis dalam menjaga economic security.

“Target negosiasi yang sedang berjalan ini yang penting Indonesia mendapatkan tarif yang lebih rendah dan tarif yang diberlakukan untuk Indonesia ini seimbang dengan negara-negara lain. Untuk target lainnya tentu kita lihat sesuai dengan pembahasan daripada tim negosiasi yang mungkin akan berlangsung satu, dua, atau tiga putaran,” ujar Airlangga dalam siaran pers.

Di sisi yang lain, Airlangga juga menyampaikan permintaan Indonesia untuk mendapatkan penurunan tarif ekspor dari Indonesia ke AS, khususnya terhadap ekspor 20 produk utama Indonesia, karena selama ini tarif impor Indonesia lebih tinggi dari beberapa negara kompetitor atau produsen barang sejenis dengan ekspor Indonesia ke AS.

Selain itu, Airlangga mengatakan tawaran Indonesia kepada AS untuk mewujudkan kerja sama perdagangan yang adil sepenuhnya mengacu kepada kepentingan nasional dan dirancang untuk memberikan setidaknya lima manfaat.

Pertama, memenuhi kebutuhan dan menjaga ketahanan energi nasional. Kedua, memperjuangkan akses pasar Indonesia ke AS, khususnya dengan kebijakan tarif yang kompetitif bagi produk ekspor Indonesia.

Ketiga, deregulasi untuk meningkatkan kemudahan berusaha, perdagangan, dan investasi yang akan menciptakan lapangan pekerjaan. Keempat, memperoleh nilai tambah dengan kerjasama rantai pasok (supply chain) industri strategis dan critical mineral. Kelima, akses ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai bidang, antara lain kesehatan, pertanian, energi terbarukan (renewable energy).

Dalam perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump tidak melihat perlunya memperpanjang batas waktu perdagangan 9 Juli yang ia tetapkan. Batas waktu ini diberikan kepada berbagai negara untuk mencapai kesepakatan dengan AS agar terhindar dari kenaikan tarif.

“Saya rasa saya tidak perlu melakukannya,” kata Trump dalam wawancara bersama Maria Bartiromo dalam program Sunday Morning Futures di Fox News, yang direkam pada Jumat (27/6/2025). Meski begitu, ia menambahkan, “Saya bisa saja [memperpanjang tenggat], itu bukan masalah besar.”

(lav)

No more pages