Logo Bloomberg Technoz

Dia berpandangan RI memiliki dua opsi penyuplai jika impor LNG tetap dilakukan, yakni dari Timur Tengah yang jaraknya lebih dekat atau dari Amerika Serikat (AS). Akan tetapi, impor LNG dari AS akan lebih mahal karena jaraknya lebih jauh.

“Perhitungan saya, harga sampai di Indonesia sekitar US$10/MMBtu sampai US$15/MMBtu,” tutur Hadi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya mengatakan Indonesia membuka peluang untuk melakukan impor gas industri akibat mahalnya harga gas di dalam negeri.

Meski demikian, Agus menggarisbawahi rencana tersebut tak serta-merta langsung dilakukan begitu saja, tetapi harus mempertimbangkan suplai gas nasional, termasuk memenuhi sejumlah persayaratan teknis yang regulasi yang berlaku.

"Apabila suplai gas nasional dianggap tidak mencukupi, baik kualitas dan harga tidak sesuai dengan regulasi, maka seharusnya HKI [Himpunan Kawasan Industri Indonesia] bisa diberikan fleksibilitas untuk mendapatkan gas dari sumber-sumber lain termasuk dari luar negeri,” ujarnya medio pekan lalu.

Agus juga mengatakan jika rencana tersebut harus terlebih dahulu dikoordinasikan bersama kementerian dan lembaga (K/L) lain, sekaligus mengamini polemik harga gas industri masih menjadi masalah yang berlarut-larut.

Langkah tersebut, kata dia, juga dilakukan sebagai solusi dalam memenuhi kebutuhan energi sektor industri yang terus meningkat dan pasokan gas nasional terbatas.

Secara terpisah, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung impor LNG memungkinkan untuk dilakukan, dengan catatan harus sesuai dengan kebutuhan industri di dalam negeri.

“Kalau ini di dalam negeri tidak mencukupi, ini kita akan buka untuk kebutuhan industri,” ujarnya saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat pekan lalu.

Jika kebutuhan bahan baku industri yang berasal dari gas tidak terpenuhi, ujar Yuliot, kebutuhan untuk bahan bakar yang digunakan pada pembangkit listrik pun kemungkinan tidak mencukupi.

“Akhirnya, kegiatan industrinya berhenti. Jadi kita akan melihat pemanfaatan ekonominya,” kata Yuliot.

Pada saat Indonesia tengah mengkaji impor gas untuk industri, para pedagang atau trader LNG dalam beberapa waktu terakhir sudah 'pasang mata' dan bersiap menjual lebih banyak bahan bakar superdingin tersebut ke eksportir tradisional di Asia Tenggara yang terpaksa beralih ke impor untuk memenuhi kebutuhan energi yang melonjak. Salah satunya Indonesia.

"Negara-negara termasuk Malaysia dan Indonesia memiliki rencana untuk meningkatkan kapasitas impor LNG, yang dapat menciptakan perubahan dalam dinamika pasar," kata Takuya Tanabe, kepala asal LNG Asia di JERA Global Markets, di KTT Asia Power and Gas BloombergNEF,  belum lama ini.

Para traders ingin memanfaatkan pertumbuhan domestik yang kuat di dua negara berkembang tersebut, di mana cadangan gas domestik yang menipis telah memaksa pemerintah untuk memikirkan kembali strategi ekspor.

(mfd/wdh)

No more pages