Logo Bloomberg Technoz

Kemenperin Kaji Impor Gas Industri, Pakar Sebut Belum Diperlukan

Mis Fransiska Dewi
25 June 2025 11:40

Pipa gas./Bloomberg-Oliver Bunic
Pipa gas./Bloomberg-Oliver Bunic

Bloomberg Technoz, Jakarta – Wacana Kementerian Perindustrian untuk membuka keran impor gas bagi kebutuhan industri dinilai kurang tepat karena Indonesia masih bisa lebih memaksimalkan sumber gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari dalam negeri.

“Menurut saya maksimalkan dahulu source LNG domestik sebelum memberikan izin impor LNG,” kata Hadi Ismoyo, praktisi senior industri migas yang juga Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC), saat dihubungi, Rabu (25/6/2025).

Indonesia, kata dia, dapat memanfaatkan sumber LNG dari lapangan gas Tangguh III di Teluk Bintuni, Papua Barat; Blok Kasuri, Papua Barat; Blok Masela; Geng North Bontang; dan IDD Bontang.


“Mohon dimaksimalkan alokasi LNG domestik untuk industri dalam negeri sebelum memikirkan masalah impor LNG yang belum tentu lebih murah. Kecuali alokasi LNG domestik sudah tidak ada,” ujarnya.

Train Tangguh 3, Teluk Bintuni, Papua Barat. (Dok. Kementerian ESDM)

Hadi mensinyalir industri bakal tidak mampu membayar dengan harga impor LNG karena saat ini ekspektasi atau kemampuan beli industri untuk harga LNG hanya sekitar US$6/million british thermal unit (MMBtu)—US$7/MMBtu.