Dia juga "menekankan pentingnya dialog yang erat untuk mengakhiri tragedi kemanusiaan di Gaza secepat mungkin" serta untuk mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina secara damai.
Erdogan, yang negaranya memiliki angkatan bersenjata terbesar kedua di NATO setelah AS, juga membahas langkah-langkah dengan Trump yang bisa diambil untuk memperkuat daya gentar aliansi tersebut.
Hubungan AS-Turki tegang setelah Turki memutuskan membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia pada masa jabatan pertama Trump, yang mendorong AS melarang Ankara membeli jet tempur F-35. Dukungan AS terhadap milisi Kurdi Suriah yang dianggap Turki sebagai ancaman juga merusak hubungan kedua negara.
Erdogan diperkirakan akan berusaha meyakinkan Trump untuk mencabut larangan tersebut dengan memberikan jaminan bahwa negaranya akan menggunakan sistem pertahanan rudal Rusia secara terkendali, menurut pejabat Turki yang berbicara dengan syarat anonim sebelum keduanya bertemu di Den Haag.
Turki berpendapat bahwa pembelian jet F-35 akan memungkinkan militernya beroperasi secara sinkron dengan anggota NATO lainnya dan meningkatkan pencegahan di sisi tenggara aliansi tersebut. Pejabat tersebut mengatakan, Turki ingin membeli total 40 jet F-35 dan 40 jet F-16.
Secara terpisah, Ankara berusaha meminta izin untuk memperoleh dan merakit mesin GE Aerospace F110 dan F404 yang digunakan dalam jet tempur buatan AS dan dalam pesawat tempur bermesin ganda Kaan, serta pesawat latihan Hurjet milik Turki.
Menurut narasumber tersebut, Erdogan juga diperkirakan akan membahas integrasi milisi Kurdi Suriah yang didukung AS dan hubungannya dengan kelompok separatis Turki, PKK, ke dalam tentara Suriah yang baru.
Dia juga siap meminta Presiden AS untuk menahan Israel di wilayah tersebut dan menyatakan penolakannya terhadap langkah Israel untuk mendirikan instalasi militer permanen di Suriah.
(bbn)
































