Dalam pidatonya Sabtu malam, Trump menyatakan bahwa “fasilitas pengayaan nuklir utama Iran telah dihancurkan secara total.” Namun hingga kini belum ada analisis independen yang mengonfirmasi pernyataan itu, dan serangan ini justru memunculkan tantangan baru dalam menilai sejauh mana kerusakan terhadap infrastruktur nuklir Iran.
Operasi berskala besar ini melibatkan total 125 pesawat, peluncuran rudal Tomahawk dari kapal selam, dan penggunaan 14 bom bunker-buster Massive Ordnance Penetrator — pertama kalinya digunakan dalam pertempuran.
Sedikit saja petunjuk bahwa misi ini akan dilakukan akhir pekan lalu. Gedung Putih sebelumnya menyebut keputusan akan diambil dalam dua minggu, memberi kesan bahwa masih ada waktu.
Namun Trump — yang biasanya menghabiskan akhir pekan di luar Washington — justru kembali ke ibu kota pada Sabtu dan memimpin rapat di Ruang Situasi Gedung Putih. Hadir pula dalam pertemuan tersebut Wakil Presiden JD Vance, Kepala Staf Susie Wiles, Menlu Marco Rubio, dan Menhan Pete Hegseth.
Rubio pada Minggu mengungkap bahwa keputusan akhir Trump untuk menyerang baru diberikan kurang dari 10 menit sebelum bom dijatuhkan.
“Presiden memiliki sejumlah titik keputusan sepanjang prosesnya, dan keputusan akhir diberikan tepat menjelang eksekusi,” katanya kepada Fox News.
Menurut Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Angkatan Udara Dan Caine, misi ini menjadi penerbangan terpanjang kedua dalam sejarah operasional pesawat B-2, hanya kalah dari misi 40 jam saat awal perang di Afghanistan tahun 2001.
Pejabat AS menyebutkan bahwa 75 senjata berpemandu presisi digunakan dalam operasi ini. Kerusakan di lapangan masih dinilai, namun menurut Jenderal Caine, “ketiga lokasi mengalami kerusakan dan kehancuran yang sangat parah.”
“Sangat mungkin setelah masa penilaian selesai, kami akan kembali dan menghantam target-target tersebut untuk memastikan hasil yang diinginkan tercapai,” ujar Joseph Votel, mantan komandan US Central Command yang kini menjadi analis di Middle East Institute seperti dikutip dari Bloomberg News. “Itu adalah bagian normal dari proses militer kami: menyerang, menilai, dan jika perlu, menyerang lagi.”
Sebelum serangan B-2 ke Fordow, sebuah kapal selam dari Gugus Tempur Kapal Induk Carl Vinson di Laut Arab meluncurkan 24 rudal jelajah Tomahawk, menurut Caine dan grafik resmi dari Pentagon.
“Anak-anak kita di dalam pesawat itu sekarang sedang dalam perjalanan pulang,” ujar Hegseth pada Minggu. Salah satu pilot B-2 dilaporkan adalah seorang perempuan.
Di media sosial, Trump menulis bahwa kerusakan terhadap fasilitas nuklir Iran “sangat besar.”
“Hantaman tepat dan keras,” katanya.
Hegseth menegaskan bahwa misi ini hanya bertujuan menghancurkan program nuklir Iran, bukan menggulingkan rezim di Teheran.
“Misi ini tidak pernah dimaksudkan sebagai upaya perubahan rezim,” ujarnya.
“Operasi ini telah dipersiapkan selama berbulan-bulan, penuh kehati-hatian dan pengamanan tingkat tinggi,” kata Hegseth. “Kami hanya menunggu kapan presiden memberi perintah.”
Namun Rubio memperingatkan bahwa Iran perlu menghentikan ambisi senjata nuklirnya.
“Jika Iran tetap ingin menjadi kekuatan nuklir, maka saya yakin itu akan membawa akhir dari rezim mereka,” ujarnya kepada Fox News.
Meski penilaian kerusakan masih berlangsung, Wapres Vance menyatakan yakin bahwa serangan AS “telah secara signifikan menunda pengembangan senjata nuklir Iran — dan itulah tujuan utama dari serangan ini.”
Program nuklir Iran, katanya, “terus mundur jauh.” Ia memperkirakan akan butuh waktu “bertahun-tahun” sebelum Iran dapat kembali mengembangkan senjata nuklir.
(bbn)





























