Trump juga menyampaikan akan berpidato langsung dari Gedung Putih pukul 22.00 waktu Washington.
Israel disebut telah diberi tahu lebih dahulu terkait serangan ini, menurut seorang sumber yang mengetahui diskusi internal namun meminta identitasnya dirahasiakan.
Trump dilaporkan telah menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu usai serangan dilakukan, menurut pejabat senior Gedung Putih.
Langkah ini menandai eskalasi luar biasa hanya dalam sepekan sejak Israel meluncurkan serangan udara ke wilayah Iran, dan menjadi keputusan kebijakan luar negeri paling serius sepanjang dua masa jabatan Trump.
Keputusan ini bertentangan dengan saran para sekutu AS di Eropa serta Badan Energi Atom Internasional (IAEA) PBB, yang berulang kali mengingatkan bahwa fasilitas nuklir tidak boleh diserang karena berisiko menimbulkan kebocoran radiasi dan bahaya nuklir lainnya.
Iran sebelumnya menegaskan tidak berniat membangun bom nuklir. Bahkan, lembaga intelijen AS pun menilai Iran belum membuat keputusan untuk mengembangkan senjata semacam itu.
Namun Trump menepis temuan tersebut dan tidak menutup kemungkinan ikut bergabung dalam serangan Israel, yang sebelumnya telah menewaskan sejumlah pejabat militer dan ilmuwan nuklir senior Iran.
Serangan ini membuka risiko besar terhadap aset-aset AS di Timur Tengah, lantaran Iran sebelumnya telah mengancam akan melakukan balasan jika serangan dilakukan.
Retorika agresif Trump dalam beberapa hari terakhir juga memicu ancaman baru dari kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran, sementara pejabat tinggi Iran menyebut AS sebagai “mitra kejahatan” Israel.
Balasan Iran kemungkinan tidak hanya berbentuk serangan langsung, tapi juga dalam bentuk serangan siber terhadap kepentingan AS atau Israel oleh kelompok peretas yang terafiliasi dengan Teheran.
Sabtu pagi, Departemen Luar Negeri AS menyatakan telah memulai evakuasi warga negaranya dari Israel. Dua penerbangan telah diorganisir dari Tel Aviv ke Athena, dengan sekitar 70 warga AS, anggota keluarga, dan pemegang izin tinggal tetap ikut dievakuasi.
“Saya berharap Iran akan menahan diri, tapi mereka pasti akan merespons—ini adalah tindakan perang oleh AS terhadap negara asing yang tidak menyerang kita baru-baru ini,” kata Barbara Slavin, peneliti senior di Stimson Center.
“Warga Amerika kini dalam bahaya, baik di Timur Tengah maupun di seluruh dunia.”
Kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan otoritas Isfahan mengonfirmasi adanya beberapa ledakan serentak di dekat fasilitas nuklir Natanz dan Isfahan pada Minggu dini hari. Ledakan ini disebut sebagai bentuk “agresi”.
Ketegangan sempat mereda setelah tim Trump pada Kamis menyebut keputusan akhir baru akan diambil dalam dua pekan ke depan. Pada Jumat, menteri luar negeri Prancis, Jerman, dan Inggris sempat menggelar pertemuan dengan pejabat Iran di Jenewa guna mencegah eskalasi lebih lanjut.
Konflik yang terus berlanjut memunculkan kekhawatiran atas potensi perang regional yang bisa menimbulkan korban sipil besar-besaran, serta mengganggu arus energi dan perdagangan global.
Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur strategis antara Iran dan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi.
Perbedaan Pandangan
Selama beberapa hari terakhir, Trump menghadapi tekanan dari dua kubu. Di satu sisi, para pendukung setia seperti Steve Bannon memperingatkan agar AS tidak ikut campur, menegaskan bahwa ini adalah konflik Israel.
Namun di sisi lain, sejumlah politisi Republik mendesak Trump untuk bertindak, menyebut Iran kini dalam posisi lemah setelah digempur Israel.
Trump dan para penasihatnya sebelumnya mengisyaratkan bahwa serangan akan bersifat terbatas. Dia juga telah memberi pengarahan kepada pimpinan mayoritas Senat, John Thune, dan Ketua DPR, Mike Johnson.
“Ini bukan awal dari perang tanpa akhir,” kata Senator Jim Risch, ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat dari Partai Republik.
“Tidak akan ada tentara AS di daratan Iran. Ini adalah serangan presisi dan terbatas yang diperlukan, dan sejauh ini dinilai sangat berhasil.”
Para analis energi mengkhawatirkan kemungkinan gangguan aliran minyak jika Iran atau sekutunya membalas serangan AS. Perhatian utama tertuju pada Selat Hormuz—jalur sempit di mulut Teluk Persia yang menjadi rute transit bagi 26% perdagangan minyak global.
Sebelumnya, kelompok Houthi telah beberapa kali menyerang kapal di Laut Merah, memaksa kapal-kapal untuk memutar melalui rute Afrika.
Serangan skala besar—termasuk kemungkinan penanaman ranjau laut—di Selat Hormuz bisa membawa dampak global lebih luas karena jalur ini sangat vital bagi ekspor minyak dan gas kawasan.
Israel, sekutu AS, melancarkan serangan kejutan terhadap Iran pada 13 Juni, mengklaim bahwa ancaman nuklir dari Teheran harus segera dinetralisir.
Infrastruktur militer Iran mengalami kerusakan parah dan sejumlah jenderal serta ilmuwan atom tewas. Namun, Israel kekurangan bom berat dan jet siluman B-2 yang dianggap diperlukan untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah.
Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal balistik dan drone dalam jumlah besar, menjebol sistem pertahanan udara Israel dan menghantam sejumlah kota.
Namun jumlah proyektil yang ditembakkan Iran menurun drastis setelah beberapa hari pertama konflik, memunculkan spekulasi soal kapasitas arsenal yang tersisa.
“Iran kini menghadapi dilema besar. Mereka sudah sangat melemah,” ujar Dennis Ross, mantan utusan Timur Tengah era Presiden Bill Clinton dan kini peneliti di Washington Institute.
“Mereka akan berusaha menunjukkan bahwa mereka tidak menyerah begitu saja, tapi mereka juga berkepentingan membatasi eskalasi ini.”
(bbn)
































