“Penurunan jumlah kunjungan dan belanja wisatawan China — yang sebagian besar disebabkan oleh kekhawatiran keamanan — mengancam untuk semakin mengurangi pendapatan dari toko bebas bea dan properti komersial lainnya,” kata Denise Wong, analis di Bloomberg Intelligence.
“Jika tidak ada langkah efektif untuk menghidupkan kembali permintaan dari Tiongkok, tren penurunan ini kemungkinan besar akan berlanjut.”
Pemerintah berencana memangkas target 37,5 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2025 setelah terjadi penurunan 30% wisatawan asal China dalam empat bulan pertama tahun ini, kata Teerasil Tapen, wakil gubernur Otoritas Pariwisata Thailand, pada Mei lalu. Kedatangan turis asing pada bulan lalu turun 13% dibandingkan tahun sebelumnya, terutama karena penurunan wisatawan China.
Prospek suram ini telah meredupkan apa yang disebut sebagai efek The White Lotus — lonjakan sementara kunjungan wisatawan Barat yang terinspirasi oleh musim terbaru serial hits HBO yang berlatar di Koh Samui.
Hal ini juga menambah risiko ekonomi bagi Thailand, di mana tarif global dan lemahnya konsumsi telah memukul pasar saham domestik. Indeks saham acuan utama negara itu telah turun sekitar 20% sepanjang tahun ini, tertinggal dari sebagian besar pasar global lainnya.
Namun demikian, penurunan kunjungan wisatawan China diperkirakan akan berbalik arah pada paruh kedua tahun ini seiring upaya pemerintah Thailand yang semakin agresif menarik kembali wisatawan asal negara tersebut, menurut Boonyakorn Amornsank, analis di Maybank Securities (Thailand) Pcl.
Sementara itu, minimnya kedatangan turis China membebani penjualan bebas bea. AOT melaporkan penurunan laba bersih kuartal Maret sebesar 13%, yang sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya pendapatan bagi hasil dari toko bebas bea dan area komersial lainnya, menurut pernyataan perusahaan.
Operator toko bebas bea terbesar di Thailand, King Power, telah meminta AOT untuk membatalkan konsesi di lima bandara, dengan alasan penurunan jumlah wisatawan China sebagai penyebab utama. Dewan direksi AOT akan menunjuk dua penasihat eksternal untuk meninjau permintaan dari King Power, yang kontribusi konsesinya menyumbang sekitar 17% dari total pendapatan AOT, kata Pejabat Presiden Paweena Jariyathitipong pada Senin.
Perusahaan saat ini tengah mencari pemimpin baru setelah CEO sebelumnya, Kerati Kijmanawat, mengundurkan diri pada akhir April.
Setidaknya empat pialang saham telah menurunkan peringkat saham AOT sejak permintaan pembatalan konsesi oleh King Power pekan lalu, menurut data yang dihimpun Bloomberg. Ini mengikuti setidaknya tiga penurunan peringkat yang terjadi bulan lalu setelah laporan keuangan kuartalan AOT.
(bbn)





























