Ketegangan antara kedua negara yang telah lama berseteru ini memanas sejak Jumat lalu ketika Israel melancarkan serangan mendadak ke fasilitas militer dan nuklir Iran. Hingga kini, serangan militer Israel telah menegaskan dominasi kekuatan udaranya sekaligus membuktiujan keterbatasan kemampuan Iran untuk memberikan respons yang efektif.
Israel juga melancarkan serangan ke ladang gas South Pars, yang memaksa penghentian operasi salah satu platform produksi. Namun hingga saat ini, infrastruktur ekspor minyak mentah utama masih relatif aman dan belum ada laporan penutupan di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur utama ekspor LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab.
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar di Eropa turut mencermati potensi gangguan pasokan dari Norwegia, pemasok utama gas pipa ke kawasan tersebut. Beberapa fasilitas produksi gas di negara Skandinavia itu tengah menjalani perawatan rutin musiman. Di sisi lain, suhu udara yang mulai menghangat di sebagian besar wilayah Eropa turut mendorong permintaan energi untuk pendingin ruangan.
Dari sisi regulasi, Komisi Eropa dijadwalkan mengajukan usulan kebijakan pada 17 Juni untuk mengakhiri ketergantungan Uni Eropa pada gas pipa dan LNG asal Rusia paling lambat akhir 2027. Aturan tersebut, yang bisa disetujui melalui mekanisme suara mayoritas khusus, akan mulai memberlakukan larangan bertahap atas impor gas Rusia mulai Januari tahun depan, termasuk menghentikan layanan bagi perusahaan Rusia di terminal LNG milik Uni Eropa.
Pada perdagangan Senin pukul 12:47 waktu Amsterdam, harga kontrak berjangka gas acuan Eropa Dutch front-month futures tercatat menguat 3,3% ke level €39,15 per megawatt-jam.
(bbn)






























